Fadli Zon Dorong Kolaborasi Budaya dan Perfilman RI–Meksiko–Georgia

3 Min Read
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong kolaborasi budaya dan perfilman antara Indonesia, Meksiko, dan Georgia sebagai upaya memperkuat diplomasi budaya serta memperluas jangkauan karya sinema Indonesia di kancah internasional.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Diplomasi budaya Indonesia kembali diperkuat. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, membuka peluang kerja sama lintas negara melalui dialog intensif dengan para duta besar negara sahabat, khususnya Meksiko dan Georgia. Fokusnya bukan sekadar seremonial, melainkan kolaborasi nyata yang menyentuh akar tradisi hingga industri kreatif.

Dalam pertemuan tersebut, Fadli menegaskan bahwa budaya merupakan jembatan strategis untuk mempererat hubungan antarbangsa sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung global.

Saat berdialog dengan Duta Besar Meksiko Serikat untuk Indonesia, Fransisco de la Torre Galindo, Fadli Zon menyoroti peluang besar kolaborasi budaya melalui tradisi Semana Santa.

Tradisi keagamaan yang hidup kuat di Larantuka, Flores, ini memiliki kemiripan dengan perayaan Semana Santa di sejumlah negara Amerika Latin, termasuk Meksiko. Kesamaan tersebut dinilai sebagai modal penting untuk pengajuan nominasi bersama Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

“Kita bisa mulai dari kesamaan nilai dan praktik budaya yang hidup di masyarakat, lalu membuka peluang pengusulan bersama ke UNESCO, baik melalui nominasi baru maupun perluasan pencatatan,” ujar Fadli.

Menanggapi hal itu, Dubes Meksiko menekankan bahwa kekuatan budaya lahir dari komunitas yang menjaganya secara turun-temurun.

“Budaya yang berakar pada masyarakat memiliki daya rekat luar biasa. Dari situlah dialog antarnegara tumbuh dan saling menguatkan,” kata Fransisco.

Tak hanya dengan Meksiko, Fadli Zon juga menggelar pertemuan dengan Duta Besar Georgia untuk Indonesia, Tornike Nozadze. Ia menilai hubungan kebudayaan Indonesia–Georgia memiliki fondasi kuat, namun belum dimaksimalkan.

“Kerja sama ini sudah ada sejak lama, tetapi belum digarap secara optimal. Sekarang saatnya kita hidupkan kembali,” tegas Fadli.

Industri film dipilih sebagai pintu masuk utama kerja sama Indonesia–Georgia. Fadli melihat potensi besar produksi bersama, pertukaran film, hingga partisipasi festival internasional.

Sejalan dengan itu, Tornike Nozadze mengusulkan program pemutaran film Georgia di Indonesia dan film Indonesia di Georgia, dengan dukungan Georgian National Film Center.

“Kami siap bekerja sama. Yang dibutuhkan adalah nota kesepahaman teknis antarlembaga agar program ini bisa segera berjalan,” ujarnya.

Selain perfilman, Georgia juga menawarkan pertukaran kelompok seni tradisional, termasuk musik dan tari rakyat Georgia serta nyanyian polifonik yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Menurut Tornike, pendekatan people-to-people contact melalui seni jauh lebih efektif dalam mempererat hubungan antarnegara secara berkelanjutan.

Menutup rangkaian dialog tersebut, Fadli Zon menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti berbagai usulan kerja sama. Ia menilai kolaborasi dapat dimulai dari pemutaran film dan festival, lalu berkembang ke pengembangan skenario dan produksi bersama dengan skema pendanaan kolaboratif.

Langkah ini menegaskan arah baru diplomasi budaya Indonesia: lebih terbuka, kolaboratif, dan berorientasi pada aksi nyata, demi memperluas jejaring internasional sekaligus mengangkat peran budaya Indonesia di tingkat global.

Share This Article