JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Ancaman siber AI kini tidak lagi terbatas pada institusi besar atau sistem pemerintahan. Rekening pribadi, identitas digital, hingga ponsel yang digunakan masyarakat sehari-hari menjadi target empuk kejahatan siber yang semakin canggih dan sulit dideteksi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa ancaman siber AI telah mengubah lanskap keamanan digital secara drastis. Serangan tidak lagi bergantung pada kelalaian pengguna, melainkan bisa masuk tanpa disadari oleh korban.
“Sekarang serangan tidak selalu membutuhkan klik. Ada zero click attack. Cukup pesan masuk, malware langsung bekerja,” ujar Nezar, dikutip Minggu, 1 Februari 2026, menyoroti betapa seriusnya ancaman siber AI terhadap kehidupan digital masyarakat.
Menurut Nezar, pemanfaatan kecerdasan buatan membuat ancaman siber AI bergerak jauh lebih cepat dan masif. Dengan otomatisasi, pelaku kejahatan mampu memindai jutaan sistem dalam hitungan detik dan memilih target yang dinilai paling menguntungkan.
Data Boston Consulting Group (BCG) per Desember 2025 menunjukkan ancaman siber AI berkembang lebih cepat dibandingkan sistem pertahanan digital. Kondisi ini menyebabkan banyak warga menjadi korban tanpa pernah menyadari kapan serangan terjadi.
Lebih berbahaya lagi, ancaman siber AI tidak hanya menyerang sisi teknis, tetapi juga emosi manusia. Teknologi deepfake memungkinkan wajah dan suara seseorang ditiru secara meyakinkan, sehingga penipuan terasa sangat personal.
“Sekarang wajah dan suara bisa dipalsukan. Penipuan menjadi sangat dekat dan personal. Banyak korban jatuh karena percaya pada orang yang mereka kenal,” kata Nezar, menggambarkan bahaya ancaman siber AI di ruang sosial digital.
Ia menambahkan, sistem keamanan konvensional semakin rapuh menghadapi ancaman siber AI. Perkembangan AI dan riset komputasi kuantum berpotensi membuat kata sandi yang digunakan saat ini tidak lagi aman di masa depan.
“Password yang kita pakai hari ini suatu saat bisa tidak bermakna. Dunia sedang bergerak ke era pascakuantum,” ujarnya, menegaskan eskalasi ancaman siber AI.
Nezar menekankan bahwa ancaman siber AI membuat tidak ada ruang yang benar-benar aman selama perangkat terhubung ke jaringan digital. Ancaman dapat datang dari ponsel, aplikasi, hingga perangkat sederhana yang digunakan setiap hari.
“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya, mengingatkan publik akan luasnya jangkauan ancaman siber AI.
Untuk merespons situasi tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong penerapan pendekatan security by design sebagai tameng menghadapi ancaman siber AI, yakni membangun keamanan sejak awal pengembangan sistem.
“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi, tapi juga kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” kata Nezar, menutup pernyataannya terkait pentingnya kesiapan nasional menghadapi ancaman siber AI.
Penulis: Arini
