Pencopotan Mural Ridwan Kamil di Depok: Sekda Jabar Enggan Komentar, DPRD Sarankan Fokus Kinerja

3 Min Read
Mural wajah Ridwan Kamil di underpass Dewi Sartika Depok dicopot Pemprov Jabar. Selain diganti gambar, slogan "Jabar Juara" juga akan berganti jadi "Jabar Istimewa". DPRD sarankan pejabat fokus kerja nyata ketimbang tampil di ruang publik.

BANDUNG, NOLESKABAR.COM – Mural wajah mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) bergaya Wedha’s Pop Art Portrait (WPAP) yang berada di underpass Dewi Sartika Kota Depok telah dicopot oleh petugas Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Jawa Barat. Aksi pencopotan dilakukan secara bertahap menggunakan alat las dan gergaji hingga seluruh bagian gambar dilepas dari dinding underpass.

Proses pencopotan yang dilakukan pada hari Selasa (10/2/2026) menjadi sorotan publik, terutama setelah diketahui bahwa tindakan ini merupakan bagian dari langkah Pemprov Jabar dalam menyegarkan simbol-simbol visual di ruang publik. Tak hanya menghapus gambar mantan gubernur, pihak provinsi juga merencanakan penggantian slogan lama “Jabar Juara” dengan narasi baru “Jabar Istimewa” di beberapa lokasi strategis.

Saat dimintai tanggapan terkait kebijakan tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman enggan memberikan penjelasan rinci. Ia menyatakan bahwa persoalan pencopotan mural tidak berada dalam ranah kewenangannya sehingga tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut.

“Saya kira tidak dalam kapasitas saya mengomentari itu,” ujar Herman secara singkat saat ditemui di kantornya. Dikutip dari detik (10/2/2026).

Seperti diketahui, mural WPAP milik Ridwan Kamil telah menjadi salah satu ikon visual di underpass Dewi Sartika sejak beberapa waktu lalu. Keberadaannya pernah menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang melintas di area tersebut sebelum akhirnya diambil keputusan untuk dicopot.

Anggota DPRD Jawa Barat dari Daerah Pemilihan 8 (Kota Depok-Kota Bekasi), Ronny Hermawan, memberikan tanggapan yang cukup berbeda terhadap aksi pencopotan tersebut. Menurutnya, peristiwa ini justru bisa menjadi momentum untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap simbol-simbol visual pejabat publik.

“Kalau saya pribadi memang sebaiknya pejabat publik tidak sering-sering menampilkan wajah di billboard, reklame, jembatan, underpass. Jauh lebih penting bekerja nyata di tengah masyarakat. Jadi bukan kehadiran gambar, tapi kehadiran kerja dan kinerja jauh lebih utama,” tegas Ronny.

Politikus tersebut juga menegaskan bahwa harapan masyarakat saat ini lebih terkonsentrasi pada aksi nyata pemerintah daripada sekadar simbol atau slogan. Ia mengingatkan bahwa berbagai persoalan seperti bangunan liar dan banjir membutuhkan konsistensi tindak lanjut yang nyata dari para kepala daerah, bukan hanya kehadiran fisik melalui gambar atau kunjungan keliling. “Gubernur sudah keliling di Jabar membuktikan kehadiran dirinya. Tinggal konsistensi dalam menangani berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat,” pungkasnya.

Share This Article