JAKARTA,NOLESKABAR.COM-India mencatat kematian pertama dalam wabah virus Nipah terbaru. Seorang perawat perempuan berusia 25 tahun di Benggala Barat meninggal setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit Barasat. Komplikasi, termasuk infeksi paru, membuat jantungnya berhenti bekerja.
“Pasien masuk ICU dalam kondisi kritis. Semua upaya medis sudah dilakukan,” kata pejabat kesehatan setempat, Minggu (15/2/2026).
Perawat itu adalah salah satu dari dua kasus terkonfirmasi di Benggala Barat. Pasien kedua, seorang pria 27 tahun, kini telah pulih dan dipulangkan.
Kasus ini membuat pihak berwenang melakukan pelacakan kontak besar-besaran. Sekitar 200 orang yang pernah berinteraksi dengan pasien dipantau ketat. “Semua kontak yang teridentifikasi negatif, dan tidak ada infeksi lanjutan,” jelas pejabat setempat.
Kematian ini mengikuti laporan WHO tentang seorang perempuan di Bangladesh yang meninggal karena Nipah. Pasien berusia 40-an itu mulai menunjukkan gejala 21 Januari, seperti demam, sakit kepala, hipersalivasi, disorientasi, dan kejang. Ia dilaporkan sempat mengonsumsi nira kurma mentah.
“Korban meninggal sekitar seminggu setelah gejala muncul,” kata otoritas Bangladesh. Sebanyak 35 kontak dekat pasien dipantau, namun tidak ditemukan infeksi tambahan.
Virus Nipah termasuk zoonosis, menular dari hewan ke manusia. Kelelawar buah adalah inang utama, tapi penularan bisa juga lewat makanan terkontaminasi atau kontak erat dengan pasien.
Gejala awal Nipah meliputi demam, sakit kepala, dan gangguan pernapasan. Jika berat, infeksi bisa memicu ensefalitis atau gagal napas. WHO mencatat tingkat kematian Nipah antara 40–75 persen, tergantung kondisi pasien dan kualitas perawatan.
Hingga saat ini, belum ada vaksin atau antivirus khusus. Penanganan fokus pada perawatan suportif dan mengatasi komplikasi.
Wabah ini juga memicu kewaspadaan internasional. Beberapa negara Asia memperketat pemeriksaan di bandara, sementara Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengimbau pelancong dari wilayah terdampak untuk segera mencari nasihat medis bila muncul gejala.
“Risiko penyebaran internasional masih rendah, tapi tetap harus waspada,” tegas WHO.
Otoritas India terus memantau situasi dan menyiapkan rumah sakit untuk menghadapi potensi kasus baru, memastikan warga tetap aman.
Penulis: Arini
