Malam di Montilivi berubah menjadi panggung kejutan. Di stadion yang selama ini mulai dikenal sebagai benteng sulit ditembus, Girona FC menulis satu bab paling berani dalam musim ini dengan menaklukkan raksasa Katalonia, FC Barcelona, dengan skor 2-1. Ini bukan sekadar kemenangan. Ini tamparan.
Barcelona datang dengan beban besar: menjaga asa perebutan puncak LaLiga. Tekanan itu terasa sejak peluit awal. Mereka menguasai bola, memainkan tempo, dan mencoba menunjukkan siapa yang lebih berkelas. Di atas kertas, semuanya tampak normal. Klub besar mendikte permainan, tim tuan rumah menunggu celah.
Gol pembuka Barcelona lahir dari situasi bola mati. Pau Cubarsí menyambar peluang di dalam kotak penalti dan mengirim bola ke sudut atas gawang. Selebrasi singkat, gestur percaya diri, seolah pesan telah dikirim: laga ini milik mereka. Girona tertinggal, tetapi tidak runtuh.Justru di situlah pertandingan berubah arah.Girona menaikkan garis tekanan. Mereka berhenti bermain aman.

Serangan demi serangan dibangun dengan cepat, memanfaatkan ruang di sisi lapangan. Barcelona mulai kehilangan ketenangan. Umpan-umpan yang sebelumnya mengalir lancar berubah menjadi terburu-buru. ini belakang yang terlihat solid mulai menunjukkan celah.
Waktu terus berjalan. Barcelona tampak nyaman dengan keunggulan tipis. Namun kenyamanan itu berubah menjadi kelengahan.Menit ke-86 menjadi titik ledak. Sebuah kombinasi cepat di sisi lapangan membelah pertahanan Blaugrana. Bola dikirim ke jantung kotak penalti dan diselesaikan dengan tegas oleh pemain Girona. Skor imbang. Stadion bergemuruh. Barcelona terpukul, tetapi belum benar-benar sadar bahaya.
Petaka datang di masa tambahan waktu. Girona, yang tak lagi bermain dengan rasa takut, melancarkan serangan terakhir. Pergerakan cerdas membuka ruang, penyelesaian akhir dilakukan dengan dingin. Bola bersarang di gawang. Skor berbalik. 2-1.Di sisi lapangan, wajah-wajah Barcelona membeku.

Mereka yang datang untuk mengamankan tiga poin justru pulang dengan tangan hampa. Girona merayakan kemenangan seperti final. Dan memang, untuk mereka, ini lebih dari sekadar tiga angka.Kekalahan ini membuka pertanyaan besar.
Mengapa Barcelona kembali gagal menjaga keunggulan?
Mengapa dominasi penguasaan bola tidak berbanding lurus dengan ketajaman dan kontrol emosi?
Ketika tekanan meningkat, justru Girona yang tampil lebih matang.Montilivi kini resmi menjadi simbol perlawanan. Girona tidak lagi sekadar tim kuda hitam. Mereka berani menatap mata klub besar dan menantangnya tanpa ragu.
Sementara itu, Barcelona harus menghadapi kenyataan pahit: reputasi besar tidak menjamin kemenangan. Dalam perburuan gelar yang ketat, satu malam buruk bisa mengubah arah musim.Dan di Montilivi, malam itu menjadi milik Girona sepenuhnya.
Penulis:NL
