Ramadan di Gaza: Pasar Penuh, Dompet Kosong

3 Min Read
Ramadan di Gaza: Pasar Penuh, Dompet Kosong (Ilustrasi)

GAZA, NOLESKABAR.COM- Bulan suci tiba, tapi luka belum sembuh. Di Gaza Strip, Ramadan tahun ini tidak disambut dengan gegap gempita. Lampu hias mungkin terpasang, kurma tersusun rapi, sayur dan buah menggunung di lapak-lapak pasar.

Namun satu hal hilang: daya beli.Perang panjang sejak Oktober 2023 meninggalkan kehancuran masif. Data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip Al Jazeera mencatat lebih dari 72 ribu orang tewas dan ratusan ribu lainnya terluka.

Dua tahun konflik bukan hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga menghancurkan sendi ekonomi keluarga.Kini, ketika azan Subuh pertama Ramadan berkumandang, warga Gaza menghadapi kenyataan pahit: barang ada, uang tidak.

Seorang pedagang, Mohammed Al-Hilu, menggambarkan situasi tanpa basa-basi. Semua tersedia di pasar. Kurma, tepung, daging, minuman, dekorasi Ramadan. Tapi harga melambung.

“Tidak semua orang bisa membeli,” ujarnya.

Kalimat sederhana, tetapi menghantam keras.Dulu, katanya, orang masih punya pekerjaan. Upah mungkin tak besar, tetapi cukup untuk membeli kebutuhan pokok.

Sekarang? Lapangan kerja menguap. Banyak keluarga tak memiliki penghasilan sama sekali.Pernyataan serupa datang dari warga lain.

Mereka bisa berjalan ke pasar tanpa takut bom jatuh situasi keamanan relatif lebih tenang dibanding tahun sebelumnya. Namun ketenangan tanpa uang tetaplah kecemasan.Ironinya nyata.

Ramadan identik dengan berbagi, dengan meja makan yang lebih penuh dari biasanya. Di Gaza, meja itu justru makin kosong.

Harga pangan melonjak, sementara kemampuan membeli terjun bebas. Inflasi di wilayah konflik bukan sekadar angka statistik ia terasa di perut yang menahan lapar lebih lama.Seorang warga bernama Jalal mengakui kondisi keamanan lebih baik.

Tahun lalu, orang enggan keluar rumah karena ancaman serangan. Tahun ini mereka berani ke pasar. Tapi keberanian tidak otomatis berubah menjadi transaksi.

Masalahnya bukan ketersediaan pasokan semata, melainkan runtuhnya struktur ekonomi. Tanpa pekerjaan, tanpa arus kas, tanpa stabilitas, pasar hanya menjadi etalase yang tak terjangkau.

Ramadan di Gaza tahun ini menjadi simbol paradoks: suasana religius hadir, tetapi kesejahteraan absen. Anak-anak mungkin masih melihat lampu warna-warni, tetapi orang tua menghitung sisa uang dengan cemas.

Perang boleh mereda, tapi pemulihan tidak terjadi dalam semalam. Infrastruktur rusak bisa dibangun kembali dengan beton dan baja. Ekonomi keluarga yang hancur butuh waktu jauh lebih panjang untuk pulih.Gaza memasuki Ramadan bukan dengan pesta, melainkan dengan ketahanan.

Mereka tetap berpuasa, tetap beribadah, tetap ke pasar meski dompet kosong.Dan di balik deretan kurma yang tersusun rapi itu, ada satu kenyataan pahit: di Gaza hari ini, harapan masih lebih mahal daripada harga makanan.

Penulis:NL

Share This Article