JAKARTA,NOLESKABAR.COM- Petualangan Eropa bukan lagi sekadar mimpi bagi Crystal Palace. Klub London itu kini berdiri di panggung yang belum pernah mereka pijak sebelumnya: fase gugur kompetisi Eropa. Dan menjelang duel play-off babak 16 besar Liga Conference UEFA melawan HŠK Zrinjski Mostar di Stadion Bijeli Brijeg, Mostar, pesan dari pelatih Oliver Glasner terdengar jelas tidak ada ruang untuk sikap setengah hati.
Glasner menegaskan timnya tidak datang untuk bermain aman. Ia menolak mentalitas bertahan demi hasil imbang. Baginya, pendekatan seperti itu justru melemahkan karakter tim sebelum laga dimulai. Palace, kata dia, harus masuk lapangan dengan pikiran untuk menang bukan sekadar bertahan hidup.“Ini momen bersejarah bagi klub,” tegasnya dalam nada penuh keyakinan.
Untuk pertama kalinya, Palace masih bertahan di kompetisi Eropa hingga Februari. Namun bagi Glasner, bertahan saja tidak cukup. Ambisinya lebih besar: melaju sejauh mungkin dan menorehkan jejak nyata, bukan sekadar numpang lewat.
Persiapan tim disebutnya berjalan maksimal. Sepekan terakhir diisi latihan intensif dengan intensitas tinggi. Fokusnya bukan hanya taktik, tetapi juga mentalitas. Di fase gugur, kesalahan kecil bisa berujung fatal. Karena itu, keseimbangan antara agresivitas menyerang dan disiplin bertahan menjadi kunci.
Glasner menolak pendekatan pasif yang kerap dipilih tim tamu di Eropa Timur. Ia ingin anak asuhnya menguasai permainan, menekan, dan mencetak gol. “Kami ingin bermain sepak bola kami sendiri,” isyaratnya. Serangan aktif, tempo cepat, dan struktur permainan rapi menjadi fondasi strategi Palace.
Namun di balik optimisme itu, ada bayang-bayang cedera yang belum sepenuhnya sirna. Gelandang tangguh Jeff Lerma masih harus menepi akibat cedera hamstring dan diperkirakan absen sekitar tiga pekan. Eddie Nketiah juga mengalami kemunduran dalam pemulihan dan belum bisa dipastikan kapan kembali. Sementara Jean-Philippe Mateta masih menjalani rehabilitasi, dengan harapan pulih dalam dua hingga tiga pekan.
Meski demikian, Glasner tidak menjadikan absennya beberapa pemain sebagai alasan. Ia memastikan skuad yang tersedia dalam kondisi siap tempur. Baginya, kompetisi Eropa menuntut adaptasi dan kedalaman tim. Siapa pun yang turun harus mampu menjawab tantangan.
Laga di Mostar dipastikan tidak mudah. Zrinjski dikenal tangguh saat bermain di kandang sendiri, dengan atmosfer stadion yang intim dan tekanan suporter yang intens. Namun justru di situlah Glasner melihat peluang pembuktian. Palace tidak ingin sekadar mencicipi panggung Eropa mereka ingin menguasainya.
Pertandingan ini lebih dari sekadar 90 menit. Ini adalah ujian mental, kedewasaan taktik, dan keberanian mengambil risiko. Glasner paham, sejarah tidak ditulis oleh tim yang bermain aman. Ia memilih jalan berbeda: menyerang, percaya diri, dan berani.
Kini panggung sudah siap. Palace datang bukan sebagai turis, melainkan sebagai penantang serius. Jika mentalitas yang dijanjikan benar-benar diwujudkan di lapangan, maka langkah klub London itu di Eropa bisa berubah dari cerita kejutan menjadi kisah ambisi yang nyata.
Penulis:NL
