Persija vs PSM Tanpa VAR: Ujian Serius untuk Integritas Laga di JIS

2 Min Read
Persija vs PSM Tanpa VAR: Ujian Serius untuk Integritas Laga di JIS (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM-Malam itu, lampu-lampu Jakarta International Stadium menyala terang. Suporter berdatangan dengan semangat membuncah. Bagi Persija Jakarta, ini bukan sekadar pertandingan biasa. Setelah lima bulan terusir, mereka akhirnya kembali ke rumah sendiri. Aroma euforia terasa sejak sore, menyelimuti tribun dan lorong stadion.

Namun, menjelang kick-off, kabar itu datang seperti angin dingin yang memotong suasana hangat: laga kontra PSM Makassar di pekan ke-22 Super League Indonesia dipastikan berlangsung tanpa VAR.Tanpa teknologi penolong. Tanpa layar peninjau ulang. Tanpa “kesempatan kedua”.

Alasannya disebut teknis. Singkat. Tanpa uraian panjang. Informasi itu diterima hanya beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Kedua tim sudah diberi tahu. Perangkat laga juga sudah memahami situasinya. Tetapi publik tak mendapat penjelasan detail apa yang sebenarnya terjadi?

Ironisnya, laga ini seharusnya menjadi simbol kebangkitan.Persija kembali ke JIS dengan harapan baru,

dukungan penuh, dan atmosfer besar. PSM datang membawa ambisi mencuri poin. Dua tim besar, dua sejarah panjang, satu panggung megah.

Lalu VAR menghilang.

Dalam sepak bola modern, VAR bukan sekadar teknologi tambahan.

Ia menjadi penjaga di balik layar, memastikan gol sah, pelanggaran jelas, dan kartu merah tak salah alamat. Ketika ia tak hadir, pertandingan kembali sepenuhnya pada mata dan keputusan wasit. Satu tiupan peluit bisa menentukan arah musim.

Di ruang siaran, tayangan ulang tetap tersedia. Penonton di rumah bisa melihat detail yang terlewat. Tapi wasit di lapangan? Tidak. Apa yang sudah diputuskan, tak bisa ditarik kembali.

Situasi ini membuat laga terasa berbeda. Tegang, ya. Tapi juga rapuh. Setiap duel di kotak penalti, setiap gol tipis yang nyaris offside, setiap kontak keras semuanya kini berpotensi menjadi bahan perdebatan panjang.

Malam yang seharusnya hanya tentang sepak bola, tiba-tiba berubah menjadi ujian integritas dan kesiapan liga. Di tengah upaya modernisasi kompetisi, absennya VAR justru memunculkan pertanyaan: seberapa siap sebenarnya panggung besar ini?

Bola tetap bergulir. Sorak-sorai tetap menggema. Tapi di balik gemuruh stadion, ada satu ruang kosong yang tak terlihat ruang tempat teknologi seharusnya berdiri menjaga keadilan pertandingan.

Penulis:NL

Share This Article