JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,028 persen atau turun 2,31 poin ke level 8.271,77 pada perdagangan Jumat, 20 Februari, pukul 16.00 WIB. Secara angka, pelemahan ini terlihat sangat kecil. Namun, jika dibandingkan dengan pergerakan bursa global yang mayoritas menguat, kondisi tersebut memunculkan tanda tanya mengenai arah sentimen investor domestik.
Di kawasan Asia, Nikkei 225 naik 1,12 persen, Hang Seng Index menguat 1,10 persen, dan KOSPI melonjak 2,31 persen. Bursa Eropa juga bergerak positif, dengan DAX terapresiasi 0,52 persen. Sementara itu, di Amerika Serikat, Dow Jones Industrial Average menguat 0,24 persen dan S&P 500 naik 0,31 persen.
Kontras dengan tren global tersebut, IHSG justru bergerak di zona negatif, meskipun sangat terbatas. Rentang pergerakan harian berada di level 8.236,75 hingga 8.328,42. Posisi penutupan juga sedikit di bawah penutupan sebelumnya yang berada di 8.274,08.
Menariknya, indeks saham unggulan di dalam negeri sebenarnya menunjukkan performa positif. LQ45 menguat 0,12 persen ke level 835,28. IDX30 naik tipis 0,020 persen ke 436,63. Bahkan SRI-KEHATI mencatat kenaikan 0,43 persen ke 382,11. Hal ini mengindikasikan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar relatif stabil.
Tekanan diduga berasal dari saham lapis kedua dan ketiga, yang lebih sensitif terhadap aksi ambil untung jangka pendek. Secara teknikal, level 8.300 masih menjadi area psikologis yang belum mampu ditembus secara konsisten. Kegagalan menembus level tersebut dapat memicu konsolidasi lanjutan.
Dari perspektif global, sentimen pasar sebenarnya cukup kondusif. Penguatan indeks di Asia dan Amerika Serikat mencerminkan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi serta ekspektasi kebijakan moneter yang stabil. Namun, respons IHSG yang cenderung stagnan menunjukkan bahwa investor domestik memilih pendekatan selektif dan defensif.
Dalam rentang tahun berjalan, IHSG bergerak antara 5.882,61 hingga 9.174,47. Secara jangka panjang, tren masih berada dalam koridor yang sehat. Meski demikian, pergerakan harian yang tertahan saat pasar global menguat dapat dibaca sebagai fase konsolidasi.
Jika arus dana asing kembali menguat dan sentimen domestik membaik, IHSG berpotensi mengejar penguatan regional. Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat, indeks berisiko menguji kembali area penopang di kisaran 8.200.
Pelemahan tipis hari ini memang belum mencerminkan perubahan tren. Namun, perbedaan arah dengan bursa global menjadi sinyal bahwa pasar domestik sedang berhitung, bukan sekadar mengikuti euforia internasional.
