LOMBOK UTARA,NOLESKABAR.COM- Malam dwi Gili Trawangan yang biasanya tenang mendadak ricuh. Sekitar pukul 23.30 Wita, saat warga tengah khusyuk membaca Al-Qur’an di sebuah mushala, seorang warga negara asing asal Selandia Baru tiba-tiba masuk dan mengamuk. Ia disebut mencabut kabel mikrofon, merusak peralatan, bahkan mencakar salah satu jamaah.
Peristiwa itu langsung menyulut emosi warga. Namun, alih-alih membalas dengan kekerasan, masyarakat memilih menahan diri. Mereka berusaha menjelaskan bahwa penggunaan pengeras suara masih dalam batas waktu yang diperbolehkan selama Ramadhan. Di kawasan wisata tersebut, aturan lokal menyebutkan bahwa hingga pukul 24.00 Wita, speaker luar masih bisa digunakan. Lewat tengah malam, barulah dibatasi ke speaker dalam.
Insiden ini bukan sekadar soal kabel mikrofon yang dicabut. Ini soal batas antara kenyamanan pribadi dan penghormatan terhadap praktik ibadah masyarakat setempat. Gili Trawangan memang destinasi internasional. Turis datang dan pergi. Namun, nilai-nilai lokal tetap hidup dan dijaga.
Yang menarik, warga yang tersulut emosi tetap memilih tidak main tangan. Tidak ada aksi balasan fisik terhadap pelaku. Sikap ini menunjukkan kedewasaan sosial yang patut diapresiasi. Di tengah provokasi, mereka memilih menahan diri.
Di sisi lain, peristiwa ini juga membuka ruang diskusi tentang tata kelola kebisingan di wilayah multikultural. Di banyak daerah, penggunaan pengeras suara rumah ibadah selama Ramadhan memang diatur agar tetap menghormati warga lain. Di Gili Trawangan, aturan itu sudah ada—dan berlaku bukan hanya untuk tempat ibadah, tetapi juga untuk kafe atau tempat hiburan.
Artinya, regulasi sebenarnya sudah berusaha menyeimbangkan kepentingan. Masalah muncul ketika komunikasi gagal dan emosi mengambil alih.
Insiden ini menjadi pengingat keras: hidup berdampingan menuntut saling memahami, bukan saling memaksakan. Wisatawan yang tinggal lama di suatu daerah semestinya memahami kultur setempat. Sebaliknya, masyarakat lokal pun perlu terus mengelola ruang publik secara adil dan bijak.
Ramadhan seharusnya menjadi bulan pengendalian diri. Ironis jika justru di bulan ini kesabaran diuji sedemikian rupa. Gili Trawangan kembali diingatkan bahwa toleransi bukan slogan, melainkan praktik nyata terutama ketika perbedaan terasa paling bising.
Penulis:NL
