ACEH TIMUR, NOLESKABR.COM-Di sudut terpencil Dusun Ranto Panyang Rubek, harapan tidak datang bersama bantuan resmi. Ia dibangun dengan tangan sendiri.Warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Timur memilih berhenti menunggu.
Kayu-kayu sisa rumah yang hanyut mereka kumpulkan. Rangka tenda pengungsian mereka bongkar, dipasang ulang. Dari puing kehancuran, berdirilah hunian sementara—bukan karena difasilitasi, tapi karena terpaksa.
Abu Syam adalah salah satunya. Dua hari ia bekerja tanpa banyak bicara. Targetnya sederhana: sebelum Ramadan, keluarganya tak lagi berdesakan di tenda.
Tiga bulan tinggal bersama dua keluarga lain di tenda bantuan terasa sesak, panas, dan tanpa kepastian. Janji soal hunian tetap belum jelas ujungnya. Daripada terus mengeluh, ia memilih memalu dan memaku.
Rangka tenda bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dipindahkan karena lokasi awal terlalu dekat dengan bibir sungai area yang masih menyimpan ancaman. Kayu yang dipakai?
Bekas rumahnya sendiri yang terseret banjir November 2025. Tidak ada material baru. Tidak ada kontraktor. Hanya tekad.
Fenomena ini bukan satu-dua kasus. Sejumlah warga lain juga melakukan hal serupa. Ada yang membangun di kebun sawit milik sendiri agar lebih jauh dari aliran sungai. Mereka sadar risiko. Mereka tak mau tragedi terulang.Dusun Ranto Panyang Rubek disebut sebagai “dusun yang hilang”.
Banjir bandang meluluhlantakkan kawasan itu hingga nyaris rata. Akses menuju lokasi pun bukan perkara mudah dua jam perjalanan menembus kebun sawit dan jalan berlumpur yang belum pulih sepenuhnya.
Di tengah kondisi terisolasi, warga tak punya banyak pilihan. Menunggu berarti memperpanjang ketidakpastian. Bergerak berarti membuka peluang bertahan.
Kisah ini bukan sekadar tentang membangun dinding dan atap. Ini tentang harga diri penyintas yang menolak menjadi korban selamanya. Tentang keputusan untuk berdiri ketika bantuan belum sepenuhnya tiba.
Banjir merobohkan rumah mereka. Tapi tidak merobohkan kemauan mereka untuk bangkit.
Penulis:NL
