Set Piece Jadi Luka Lama, Persebaya Surabaya Tersungkur di Jepara

2 Min Read
Set Piece Jadi Luka Lama, Persebaya Surabaya Tersungkur di Jepara (Ilustrasi)

NOLESKABAR.COM- Malam di Stadion Gelora Bumi Kartini berubah pahit bagi Persebaya Surabaya. Datang dengan ambisi mencuri poin, Bajol Ijo justru dipaksa menelan kekalahan 1-3 dari Persijap Jepara pada pekan ke-22 BRI Super League, Sabtu malam (21/2).

Sejak peluit awal, ada yang tidak beres. Aliran bola tersendat. Transisi lambat. Koordinasi lini belakang tampak rapuh. Tuan rumah membaca celah itu dengan tajam dan menghukumnya tanpa ampun.

Tiga gol bersarang ke gawang Ernando Ari. Bukan semata soal jumlah, tapi cara terjadinya.

Persebaya kembali runtuh dalam skema yang sama: bola mati dan situasi transisi setelah kehilangan penguasaan. Penalti Bruno Moreira di masa injury time hanya menjadi kosmetik, bukan penyelamat.

Di tepi lapangan, pelatih Bernardo Tavares tidak mencari pembenaran. Nada bicaranya lugas, tanpa tedeng aling-aling. Ia menyebut timnya membuat terlalu banyak kesalahan elementer

kesalahan yang di level ini tak boleh terulang.Masalah terbesar? Set piece.

Dalam dua laga terakhir, empat gol bersarang dari situasi bola mati. Itu bukan kebetulan. Itu pola. Dan pola berarti ada yang salah secara struktural.Tavares mengakui situasi tersebut sudah dianalisis dan dilatih.

Namun fakta di lapangan berkata lain. Latihan tidak otomatis menjelma menjadi disiplin saat tekanan datang. Lawan tahu titik lemah Persebaya, dan mereka menyerangnya tanpa ragu.

Secara kualitas, Persebaya seharusnya mampu tampil lebih solid. Namun inkonsistensi masih jadi momok. Kadang tampil meyakinkan, kadang goyah tanpa alasan jelas. Di kompetisi seketat ini, fluktuasi adalah kemewahan yang mahal.

Tak ada waktu meratapi. Jadwal berikutnya sudah menunggu: laga kandang melawan PSM Makassar di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu (25/2).

Itu bukan sekadar pertandingan biasa itu momentum untuk membuktikan bahwa kekalahan di Jepara adalah tamparan yang menyadarkan, bukan awal kemunduran.Persebaya kini berada di persimpangan: membenahi set piece dan kembali disiplin, atau terus dihukum oleh kesalahan yang sama.

Sepak bola tidak pernah memaafkan kelengahan. Dan Jepara telah menjadi pengingat yang keras.

Penulis:NL

Share This Article