Daerah Mana di Jatim Lebih Dulu Kekeringan? Simak Daftarnya

4 Min Read
Daerah Mana di Jatim Lebih Dulu Kekeringan? Simak Daftarnya (Ilustrasi)

SURABAYA,NOLESKABAR.COM– Musim kemarau 2026 di Jawa Timur diprediksi datang lebih awal dibanding tahun-tahun sebelumnya. Prediksi dari BMKG menunjukkan sebagian wilayah mulai mengalami kekeringan sejak April 2026.

Menurut Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Arief Nugroho, sebagian besar daerah mulai merasakan dampak kemarau pada Mei 2026. Dari 99 zona musim (ZOM) yang dianalisis, sekitar 43 ZOM diprediksi sudah memasuki fase awal kemarau.

Curah hujan selama musim kemarau diperkirakan bawah normal, sehingga kekeringan bisa lebih parah. Kondisi ini berpotensi memengaruhi pertanian, pasokan air, dan kebutuhan rumah tangga.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026, di mana sekitar 71,6 persen wilayah Jawa Timur akan merasakan kondisi kering terparah.

Pemantauan dilakukan menggunakan sistem dasarian, pembagian bulan menjadi tiga periode: Dasarian I (1–10), Dasarian II (11–20), dan Dasarian III (21–akhir bulan). Sistem ini memudahkan pemetaan tren curah hujan dan kekeringan secara detail.

Wilayah yang Mengalami Awal Kemarau

Beberapa kecamatan diprediksi lebih dulu memasuki musim kemarau pada April 2026, antara lain:

Bangkalan: Tanjung Bumi, Arosbaya, Geger, Klampis, Kokop, Sepulu

Banyuwangi: Kalipuro, Banyuwangi, Blimbingsari, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Singojuruh, Bangorejo, Cluring, Gambiran, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Srono, Tegaldlimo, Tegalsari

Bojonegoro: Balen, Baureno, Kanor, Kepohbaru, Sumberrejo, Bojonegoro, Dander, Gayam, Kalitidu, Kapas, Kasiman, Kedewan, Malo, Margomulyo, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Tambakrejo, Trucuk

Wilayah Lain yang Terkena Dampak

Selain itu, wilayah Tuban, Trenggalek, Malang, Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Lamongan, Lumajang, Madiun, Sumenep, Situbondo, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Pasuruan, dan Pacitan juga diprediksi memasuki musim kering secara bertahap sepanjang April hingga Juni.

Dampak Kekeringan

Curah hujan rendah berpotensi mengganggu berbagai sektor. Pertanian menjadi yang paling terdampak, terutama sawah yang bergantung pada irigasi terbatas. Kekeringan juga bisa memengaruhi ketersediaan air bersih dan meningkatkan risiko kebakaran lahan.

Antisipasi BMKG

BMKG mengimbau masyarakat tetap proaktif. Pola tanam disesuaikan musim kering, cadangan air disiapkan, dan irigasi dikelola lebih efisien. Pemantauan rutin melalui kanal resmi BMKG penting agar langkah antisipatif bisa dilakukan lebih cepat.

Waspada Kebakaran Lahan

Kekeringan meningkatkan risiko kebakaran lahan di sawah dan hutan. Masyarakat, terutama di wilayah yang lebih awal mengalami kemarau, diminta meningkatkan kewaspadaan.

Dampak pada Petani

Petani disarankan menyesuaikan pola tanam. Padi yang membutuhkan banyak air harus diusahakan di lahan irigasi, sedangkan hortikultura bisa mengatur pola penyiraman agar tetap produktif. Cadangan air di embung, sumur, dan pompa harus disiapkan sejak awal kemarau.

Monitoring dan Informasi

BMKG menekankan pentingnya memantau informasi harian dan mingguan. Update cuaca dan kondisi ZOM membantu pemerintah daerah dan masyarakat mengambil langkah cepat bila terjadi kekeringan lebih panjang dari prediksi.

Wilayah Rawan

Wilayah yang lebih awal mengalami kemarau, seperti Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Tuban, Trenggalek, dan Malang, perlu waspada. Penyediaan air bersih, cadangan pangan, dan mitigasi kebakaran menjadi prioritas utama.

Informasi Penting

Masyarakat diminta memahami jadwal musim kemarau dan puncaknya. Pemanfaatan informasi BMKG membantu menentukan waktu menanam, menyimpan air, dan menyiapkan cadangan pangan sehingga dampak kekeringan bisa diminimalkan.

Penulis: Adi

Share This Article