JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Driver ojol patut tersenyum lebar. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) baru saja mengumumkan alokasi Bonus Hari Raya (BHR) 2026 lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Kabar ini langsung menyedot perhatian publik, terutama para mitra yang selama ini mengandalkan platform sebagai sumber penghasilan utama.
Menurut Direktur Utama sekaligus CEO GoTo, Hans Patuwo, alokasi BHR tahun ini meningkat drastis dari Rp 50 miliar pada 2025 menjadi Rp 110 miliar untuk 2026. Lonjakan ini bukan sekadar angka besar di atas kertas, tapi juga simbol apresiasi nyata perusahaan terhadap kontribusi para mitra dalam menjaga kualitas layanan selama setahun penuh.
Tak hanya itu, bagi kategori dengan nominal terendah, besaran BHR juga naik signifikan. Mitra roda dua kini bisa menerima Rp 150.000–900.000, sementara mitra roda empat menerima Rp 200.000–1,6 juta. Ini artinya, bahkan penghasilan tambahan paling kecil bisa tiga hingga empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Hans menegaskan, BHR bukan hanya bonus, tapi penghargaan atas dedikasi. “Kami menyalurkan BHR untuk mitra yang menjadikan Gojek sebagai sumber pendapatan utama maupun tambahan, dan tetap menjaga kualitas layanan kepada pelanggan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Poin yang menarik, GoTo merancang kategori penerima BHR lebih adil dan realistis. Mereka mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan, termasuk mitra yang sempat beristirahat karena kesehatan atau tanggung jawab keluarga. Pendekatan ini membuat distribusi BHR lebih transparan dan akuntabel.
Kabar ini mendapat sorotan dari pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan dukungan penuh. Ia menyebut ada sekitar 400.000 mitra Gojek yang akan menerima BHR 2026, dan menekankan agar penyaluran dilakukan paling lambat H-7 sebelum Idul Fitri, bahkan lebih awal jika memungkinkan.
Tak sekadar angka dan aturan, lonjakan BHR ini menjadi strategi psikologis GoTo. Dengan memberikan bonus lebih besar, perusahaan berharap para mitra tetap termotivasi, menjaga kualitas layanan, dan menekan potensi churn. Bagi driver ojol, ini bukan hanya soal uang, tapi pengakuan atas kerja keras di jalanan setiap hari.
Selain aspek finansial, BHR ini juga memberi sinyal kuat ke pasar: GoTo serius memperhatikan mitra dan ingin tetap dominan di sektor ride-hailing. Dalam industri yang kompetitif, gestur ini bisa jadi diferensiasi penting dibandingkan rival seperti Grab atau Maxim.
Para mitra di lapangan merespons positif. Beberapa di antaranya menyebut BHR sebagai “penyemangat kerja” di tengah tantangan sehari-hari, mulai dari hujan lebat hingga jam sibuk di kota besar. Bahkan ada yang berencana memanfaatkan sebagian BHR untuk membayar kebutuhan Lebaran atau zakat.
Hans Patuwo menekankan prinsip keberimbangan: setiap mitra dihitung berdasarkan aktivitas nyata dan kontribusi. Dengan demikian, bonus bukan sekadar formalitas, tapi mencerminkan nilai kerja yang sebenarnya.
Momen ini juga menjadi refleksi bagi industri ride-hailing. Apresiasi finansial yang tepat bisa memperkuat loyalitas mitra, meningkatkan kualitas layanan, sekaligus memperkuat citra perusahaan di mata publik dan pemerintah.
Dengan total alokasi Rp 110 miliar untuk 2026, GoTo menunjukkan bahwa bonus bukan sekadar hadiah sesaat, tapi bagian dari strategi jangka panjang. Bagi ojol, ini kabar baik sekaligus reminder: kerja keras di jalan tidak akan diabaikan perusahaan.
