JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Krisis energi mulai mengguncang kehidupan sehari-hari di berbagai negara Asia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz sejak akhir Februari disebut menjadi pemicu utama terganggunya pasokan energi global.
Laporan BBC, dikutip Rabu, 25/3/2026) menyebut, Konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel membuat distribusi minyak dunia tersendat. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Akibatnya, harga minyak melonjak tajam dan pasar keuangan dunia bergejolak. Asia menjadi kawasan paling terdampak karena sekitar 90 persen pasokan energi yang melintasi jalur tersebut selama ini mengalir ke negara-negara di kawasan ini.
Sejumlah pemerintah mulai mengambil langkah darurat untuk menghemat energi. Kebijakan seperti kerja dari rumah, pengurangan jam kerja, hingga pembatasan penggunaan listrik mulai diberlakukan di berbagai negara.
Di Filipina, pemerintah menetapkan status darurat energi nasional. Dampaknya dirasakan langsung oleh para pengemudi transportasi umum yang pendapatannya merosot drastis akibat kenaikan harga bahan bakar.
“Jika ini terus berlanjut, ini bisa menghancurkan kami dan keluarga kami,” ujar salah satu pengemudi, menggambarkan kondisi ekonomi yang semakin tertekan.
Kenaikan harga bahan bakar juga berdampak pada sektor lain seperti nelayan dan petani. Sebagian bahkan terpaksa menghentikan aktivitas produksi karena biaya operasional yang semakin tinggi.
Sementara itu di Thailand, pemerintah mengimbau penghematan energi secara luas. Warga diminta membatasi penggunaan pendingin ruangan, sementara sejumlah institusi menerapkan kerja jarak jauh.
Di Sri Lanka, antrean panjang bahan bakar kembali terjadi. Pemerintah menerapkan sistem pembatasan distribusi serta hari libur tambahan untuk menekan konsumsi.
Kondisi serupa juga terjadi di Myanmar, di mana penggunaan kendaraan dibatasi secara bergantian guna menghemat bahan bakar.
Di India, krisis energi mulai melumpuhkan sektor industri. Sejumlah pabrik terpaksa berhenti beroperasi akibat kekurangan gas, sementara restoran dan usaha kecil menghadapi kelangkaan bahan bakar memasak.
Selama konflik belum mereda, tekanan terhadap pasokan energi global diperkirakan akan terus berlanjut. Dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat negara, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari di berbagai penjuru Asia.
Editor: Sukri
