Harga Emas Tak Selalu Naik Saat Konflik, Dirut JFX Ungkap Penyebabnya

2 Min Read
Dirut JFX Yazid Kanca Surya menjelaskan harga emas tidak selalu naik saat konflik global karena tekanan likuiditas untuk kebutuhan energi, yang mendorong negara menjual cadangan emas ke pasar.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Harga emas yang selama ini dikenal sebagai aset aman (safe haven) ternyata tidak selalu mengalami kenaikan saat terjadi konflik global. Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya, mengungkapkan bahwa faktor likuiditas, terutama terkait kebutuhan energi, menjadi salah satu penyebab utama.

“Energi bagi beberapa negara yang mempunyai pasokan emas tinggi, dia harus mempunyai likuiditas yang tinggi. Banyak emas dijual di market untuk membeli energi,” ujar Yazid dalam acara temu media di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa dalam situasi ketidakpastian geopolitik, banyak negara justru melepas cadangan emasnya demi memenuhi kebutuhan energi. Hal ini membuat pasokan emas di pasar meningkat dan berdampak pada penurunan harga.

Menurut Yazid, kondisi tersebut menyebabkan pergerakan harga emas bisa berlawanan dengan teori ekonomi konvensional.

“Harusnya emas naik dong, itu safe haven commodity. Tapi enggak (naik), itu turun. Kenapa, Karena yang diganggu energi,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai telah terjadi pergeseran perilaku di pasar komoditas global. Jika sebelumnya pelaku pasar berorientasi pada harga termurah, kini fokus bergeser pada kepastian pasokan di tengah ketidakpastian global.

Merespons dinamika tersebut, JFX terus memperkuat ekosistem perdagangannya. Salah satunya dengan mengembangkan kontrak mikro dan nano untuk komoditas seperti emas, perak, tembaga, hingga energi, serta mendorong perdagangan emas digital berbasis aset fisik guna memperluas akses dan meningkatkan keamanan bagi investor.

Share This Article