JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Permen karet selama ini sering dikaitkan dengan berbagai anggapan yang belum tentu benar. Salah satu yang paling sering terdengar adalah keyakinan bahwa permen karet yang tertelan dapat bertahan lama di dalam tubuh, bahkan hingga bertahun-tahun.
Anggapan tersebut membuat sebagian orang merasa khawatir ketika tanpa sengaja menelan permen karet. Terutama pada anak-anak, kondisi ini kerap memicu kepanikan karena dianggap bisa mengganggu sistem pencernaan. Namun, penjelasan medis menunjukkan hal yang berbeda.
Dokter spesialis gastroenterologi, Dr. Vishal Seth, menyebut bahwa permen karet memang tidak dicerna seperti makanan pada umumnya. Meski demikian, bukan berarti benda tersebut akan menetap di dalam tubuh dalam waktu lama.
Menurutnya, permen karet tetap akan mengikuti jalur pencernaan yang sama seperti makanan lain. Setelah tertelan, permen karet masuk ke lambung, lalu bergerak ke usus bersama sisa makanan.
Dalam proses tersebut, tubuh tidak menyerap permen karet, tetapi tetap mendorongnya keluar melalui sistem pencernaan.
“Permen karet tidak akan tinggal di dalam tubuh selama bertahun-tahun,” jelasnya sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (19/4).
Ia menambahkan, dalam kondisi normal, permen karet biasanya akan keluar dari tubuh dalam waktu sekitar empat hingga lima hari melalui feses.
Selain itu, permen karet juga tidak akan menempel pada organ pencernaan seperti lambung atau usus, sebagaimana yang sering dikhawatirkan.
Penjelasan ini sekaligus meluruskan sejumlah mitos yang berkembang di masyarakat. Selama tertelan dalam jumlah kecil dan tidak terjadi berulang, permen karet umumnya tidak menimbulkan gangguan kesehatan serius.
Meski demikian, kebiasaan menelan permen karet tetap tidak dianjurkan. Terutama pada anak-anak, hal ini perlu dihindari untuk mencegah risiko tersedak atau gangguan lain yang tidak diinginkan.
Dengan demikian, kekhawatiran berlebihan terhadap permen karet yang tertelan sebenarnya tidak perlu terjadi, selama kondisi tubuh dalam keadaan normal dan tidak ada faktor risiko lain yang menyertai.
Editor: Arini
