JAkARTA, NOLESKABAR.COM– Sekitar 55 juta orang di Afrika Barat dan Afrika Tengah diperkirakan akan menghadapi kelaparan akut pada musim paceklik JuniAgustus 2026. Peringatan ini disampaikan Badan Pangan PBB (WFP) dalam analisis ketahanan pangan terbaru, dikutip Sabtu (17/1) dari Antara.
Menurut Jean Martin Bauer, Direktur Analisis Ketahanan Pangan dan Gizi WFP, angka ini mencakup mereka yang berada dalam kondisi krisis, darurat, hingga bencana. Sekitar tiga juta orang diproyeksikan berada dalam kondisi darurat, dua kali lipat dibanding 2020.
Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di timur Laut Nigeria, khususnya Negara Bagian Borno, yang diperkirakan akan memasuki kategori bencana pangan.
“Mereka hanya selangkah lagi dari kelaparan massal,” kata Bauer. Sekitar 15 ribu orang di Borno sudah terdampak dengan tingkat kematian yang jauh di atas normal. “Orang-orang benar-benar kelaparan,” tegasnya.
Bauer menekankan bahwa krisis ini bukan akibat cuaca atau iklim, melainkan kombinasi kekerasan berkepanjangan dan pemangkasan besar-besaran pendanaan kemanusiaan. WFP terpaksa menghentikan bantuan untuk 300 ribu anak di Nigeria, dan ada risiko pemangkasan bantuan bagi setengah juta orang di Kamerun.
Selain itu, sekitar 13 juta anak di seluruh kawasan berisiko terdampak krisis gizi pada 2026, sehingga program bantuan pangan dan gizi harus menjadi prioritas. WFP memperkirakan dana sebesar 453 juta dolar AS atau sekitar Rp 7,6 triliun diperlukan dalam enam bulan ke depan untuk mencegah memburuknya situasi pangan dan gizi anak-anak.
Tanpa bantuan cepat dan memadai, jutaan keluarga di Afrika Barat dan Tengah akan menghadapi kelaparan ekstrem yang mengancam nyawa. PBB menyerukan masyarakat internasional untuk segera meningkatkan dukungan kemanusiaan sebelum bencana benar-benar terjadi.
Editor: Sultoni
