Antara Iman, Lapar, dan Godaan Nasi Goreng

3 Min Read
Antara Iman, Lapar, dan Godaan Nasi Goreng.

NOLESKABAR.COM – Puasa adalah momen sakral yang penuh pahala, kesabaran, dan… godaan. Terutama godaan berbentuk nasi goreng, gorengan, dan es teh manis. Di sinilah muncul fenomena legendaris bernama mukel, alias “makan diam-diam saat puasa”. Sebuah seni bertahan hidup bagi perut yang tidak mau diajak kompromi.

Pelaku mukel biasanya punya insting seperti ninja. Gerakannya senyap, langkahnya ringan, dan matanya selalu waspada. Begitu melihat orang lewat, langsung berubah jadi patung. Tangan yang tadi memegang bakso, mendadak berpura-pura menggaruk kepala.

Lokasi mukel pun penuh strategi. Mulai dari dapur sepi, kamar mandi (yang ini ekstrem), belakang rumah, sampai pojokan warung yang tersembunyi. Semua demi satu tujuan: makan tanpa ketahuan. Karena kalau ketahuan, hukumannya bukan penjara, tapi ceramah panjang dari ibu.

Biasanya, alasan pelaku mukel juga kreatif. Ada yang bilang, “Aku cuma nyicip dikit.” Ada juga yang beralasan, “Tadi lupa kalau lagi puasa.” Padahal baru lima menit lalu posting status “Puasa hari ini, semangat!” di WhatsApp.

Saat mukel, rasa makanan terasa lebih nikmat dari biasanya. Bakso terasa seperti makanan restoran bintang lima. Gorengan jadi renyah seperti di iklan TV. Bahkan kerupuk pun bisa terasa seperti camilan sultan. Semua karena dimakan dengan penuh rasa bersalah.

Yang paling menegangkan adalah momen setelah mukel. Mulai muncul perasaan waswas. “Tadi kelihatan nggak ya?” “Jangan-jangan ada yang ngintip.” Setiap suara langkah terasa seperti sirine polisi. Setiap pintu dibuka bikin jantung copot.

Ada juga pelaku mukel pemula yang ceroboh. Mulut masih berminyak, remah-remah nasi masih nempel, tapi sudah sok suci ikut tadarus. Begitu ditanya, “Kok bibirmu bau mie instan?” langsung jawab, “Itu parfum baru.”

Mukel sebenarnya bukan soal lapar saja, tapi juga soal mental. Perut bilang “makan”, hati bilang “tahan”, otak bingung, akhirnya tangan jalan sendiri ke dapur. Ini seperti drama Korea versi perut, penuh konflik batin dan air mata imajiner.

Meski lucu, mukel tetap bukan hal yang patut dibanggakan. Puasa itu latihan sabar, bukan latihan sembunyi-sembunyi. Lebih baik jujur, tahan lapar, dan fokus ibadah, daripada makan diam-diam tapi hidup dalam ketakutan.

Jadi, kalau kamu pernah mukel, anggap saja itu kenangan kocak masa lalu. Jadikan bahan cerita, bukan kebiasaan. Ingat, pahala puasa lebih besar daripada sepiring mie instan. Dan yang paling penting, ibu selalu tahu… meski kamu merasa sudah sembunyi paling rapi.

Share This Article