BANGKALAN, NOLESKABAR.COM – Fajar belum benar-benar pecah ketika dapur sederhana itu sudah lebih dulu terjaga. Lampu kecil yang menggantung di langit-langit menyala temaram, menerangi sosok ibu Mai yang berdiri setia di depan kompor. Di ruang sempit itu, hari selalu dimulai lebih awal, jauh sebelum kebanyakan orang terbangun.
Tangannya bergerak lincah. Ia mengiris tempe setipis mungkin, membumbui tahu dengan racikan sederhana, mengaduk adonan bakwan hingga rata, lalu mencelupkan pisang matang ke dalam balutan tepung. Semua dilakukan dengan ketelatenan yang lahir dari kebiasaan bertahun-tahun.
Wajan besar di atas kompor menjadi saksi bisu ketekunannya. Minyak mendesis memeluk adonan, perlahan mengubahnya menjadi gorengan berwarna keemasan. Aroma bawang putih, tepung matang, dan harapan bercampur memenuhi ruangan kecil itu.
Di sela kesibukannya, bibirnya kerap berkomat-kamit. Doa-doa lirih dipanjatkan, bukan untuk kemewahan, melainkan untuk kesehatan, kelancaran rezeki, dan kekuatan menjalani hari. “Ya Allah, cukupkan hari ini,” bisiknya hampir tak terdengar.
Menjelang siang, ibu Mai mulai bersiap. Wadah-wadah plastik diisi rapi, keranjang sederhana disusun di lengannya. Dengan langkah perlahan namun pasti, ia meninggalkan rumah, menyusuri jalan menuju kampus, membawa hasil jerih payah sejak subuh.
Di lorong-lorong kampus, sosoknya begitu dikenal. Ia menyapa mahasiswa satu per satu, bahkan tak jarang masuk hingga depan ruang kelas. “Gorengannya, Nak… masih hangat,” ucapnya dengan senyum yang tak pernah pudar.
Bagi ibu Mai, ini bukan sekadar rutinitas. Di balik setiap langkah, tersimpan harapan: agar dagangan hari itu cukup untuk membeli beras, membayar listrik, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Setiap gorengan adalah perjuangan yang digoreng bersama doa.
Seorang mahasiswa pernah berkomentar, “Kalau belum beli gorengan ibu Mai, rasanya belum sah ke kampus.” Yang lain menambahkan, “Harganya murah, tapi rasanya bikin kangen rumah.” Kata-kata sederhana itu menjadi penghargaan paling berharga baginya.
Ada pula yang berkata lirih, “Ibu Mai itu seperti ibu kami di kampus. Selalu ingatkan kami makan.” Tanpa sadar, kehadirannya telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang, lebih dari sekadar penjual.
Ibu Mai mungkin hanya membawa keranjang dan gorengan. Namun di balik itu, ia membawa ketulusan, keteguhan, dan cinta seorang ibu. Di tengah hiruk-pikuk dunia kampus, ia menghadirkan rasa rumah hangat, jujur, dan penuh harapan.
Penulis; Amin
