JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Senin dini hari dengan meluncurkan dua kali awan panas guguran. Awan panas tersebut tercatat memiliki jarak luncur maksimum hingga 1,6 kilometer ke arah barat daya.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Agus Budi Santoso menjelaskan awan panas itu mengarah ke barat daya atau menuju aliran Kali Krasak.
Menurut Agus, peristiwa tersebut teramati selama periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Dalam rentang waktu itu, aktivitas awan panas tercatat sebanyak dua kali.
“Teramati dua kali awan panas guguran ke arah barat daya (Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 1.600 meter,” ujar Agus dalam keterangan tertulis di Yogyakarta, Senin (16/3/2026).
BPPTKG mencatat awan panas guguran tersebut memiliki amplitudo antara 18 hingga 33 milimeter dengan durasi kejadian sekitar 175,24 hingga 188,35 detik.
Selain awan panas, aktivitas kegempaan Gunung Merapi juga cukup tinggi. Selama periode pengamatan yang sama tercatat 49 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 41 milimeter dan durasi 57,8 sampai 182,25 detik.
BPPTKG juga merekam 14 kali gempa hibrid atau fase banyak dengan amplitudo 2 hingga 30 milimeter dan durasi antara 26,98 hingga 49,61 detik.
Aktivitas guguran lava turut teramati dari puncak gunung. Sebanyak 20 kali guguran lava tercatat meluncur ke arah barat daya menuju Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1,8 kilometer.
Sementara itu, 13 kali guguran lava lainnya juga terpantau mengarah ke Kali Sat atau Kali Putih dengan jarak luncur maksimum yang sama, yakni sekitar 1,8 kilometer.
Secara visual, Gunung Merapi terlihat cukup jelas dengan asap kawah berwarna putih bertekanan lemah. Asap tersebut terpantau memiliki intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian sekitar 500 meter di atas puncak kawah.
Kondisi cuaca di sekitar kawasan gunung dilaporkan berawan hingga cerah dengan suhu udara berkisar antara 17,2 hingga 19,2 derajat Celsius.
BPPTKG juga mencatat adanya perubahan morfologi pada kubah lava di bagian barat daya Merapi akibat aktivitas guguran lava yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Namun demikian, pada kubah tengah Merapi tidak teramati adanya perubahan morfologi yang signifikan selama periode pemantauan tersebut.
