BBCA dan Saham Jumbo Terjun Bebas, IHSG Anjlok, Siapa Yang Selamat?

2 Min Read
IHSG Dekati Level Tertinggi Tahunan, Peluang Uji Rekor Kian Terbuka (Ilustrasi)

JAKARTA, NOLESKABAR.COM– IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) kemarin (28 Januari 2026) mencatat penurunan tajam 7,35% ke level 8.320,56, menandai salah satu koreksi terbesar sepanjang tahun. Penurunan ini terjadi setelah investor asing melakukan aksi jual besar-besaran (net foreign sell) pada saham-saham berkapitalisasi jumbo, dengan BBCA (Bank Central Asia) menjadi korban utama.

Data pasar menunjukkan, nilai jual asing di BEI mencapai Rp20,93 triliun, sementara nilai beli hanya Rp14,76 triliun. BBCA mencatat net foreign sell Rp4,15 triliun, menekan harga saham ke level terendah sejak Juli 2022. Selain BBCA, saham besar lain yang terdampak adalah TLKM (Telkom Indonesia) senilai Rp564,5 miliar dan ANTM (Aneka Tambang) Rp314,3 miliar.

Sektor tambang dan energi, termasuk BRMS, TINS, dan DSSA, juga merasakan tekanan meski nilainya lebih kecil. Aksi jual asing yang masif ini membuat hampir seluruh saham di BEI berada di zona merah: 753 saham turun, 16 stagnan, dan hanya 37 naik.

Penyebab utama IHSG anjlok adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan membekukan rebalancing indeks saham Indonesia pada Februari 2026. Keputusan ini membuat investor asing panik, menarik dana besar-besaran, sehingga menekan harga saham jumbo. Selain itu, sentimen global yang tidak menentu dan kekhawatiran pasar terhadap volatilitas saham berkapitalisasi besar turut memperburuk koreksi IHSG.

IHSG sempat ambruk lebih dari 8% sehingga BEI menghentikan perdagangan sementara (trading halt). Nilai transaksi kemarin tercatat Rp45,50 triliun, dengan 60,86 miliar saham diperdagangkan dalam 3,99 juta kali transaksi. Kondisi ini menandai dominasi aksi jual asing yang mempengaruhi harga saham jumbo dan sektor strategis.

Investor pun mempertanyakan, saham mana yang masih aman dan siapa yang selamat dari tekanan pasar. Meski BBCA menjadi sorotan, beberapa saham defensif dan sektor tertentu mungkin tetap stabil, meski tren aksi jual asing masih berlanjut.

Share This Article