Bitcoin Jebol 64.000 Dollar AS, Kepercayaan Investor Ambruk

4 Min Read
Bitcoin Jebol 64.000 Dollar AS, Kepercayaan Investor Ambruk (Ilustrasi)

JAKARTA, NOLESKABAR.COM– Harga bitcoin hari ini kembali rontok dan menembus level psikologis 64.000 dollar AS, mempertegas tekanan berat di pasar aset kripto global. Pada perdagangan Kamis (5/2/2026) waktu setempat, harga BTC bahkan sempat jatuh ke 62.303 dollar AS, level terendah sejak November 2024.

Tekanan tersebut membuat bitcoin BTC terakhir diperdagangkan di kisaran 63.010 dollar AS atau sekitar Rp 1 miliar. Harga bitcoin anjlok ini memperpanjang tren koreksi yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa tanda pemulihan yang jelas.

Sejak mencapai puncak di atas 126.000 dollar AS, harga bitcoin ambruk lebih dari 45 persen. Dalam sepekan terakhir saja, harga bitcoin menurun sekitar 20 persen, menjadikannya salah satu fase penurunan terdalam sejak pasar bearish 2022.

Kondisi ini mengguncang narasi lama bitcoin sebagai emas digital. Alih-alih menjadi lindung nilai inflasi, aset kripto justru bergerak searah dengan saham berisiko di tengah tekanan makroekonomi dan geopolitik global.

Analis Deutsche Bank, Marion Laboure, menilai harga bitcoin merosot sebagai cerminan rusaknya sentimen pasar.

“Aksi jual yang terus-menerus menandakan investor tradisional mulai kehilangan minat. Pesimisme terhadap kripto semakin meningkat,” kata Laboure.

Klaim bitcoin sebagai safe haven juga terpatahkan. Dalam satu tahun terakhir, harga BTC hari ini tercatat turun hampir 30 persen, sementara emas justru melonjak sekitar 68 persen, memperlebar jurang kepercayaan investor.

Tekanan meluas ke kripto lain. Harga Ethereum (ETH) terkoreksi sekitar 23 persen dalam sepekan, sedangkan harga Solana anjlok hingga 24 persen, mendekati level terendah dua tahun terakhir di kisaran 88 dollar AS.

Pelaku pasar kini menyoroti harga bitcoin USD di level 70.000 dollar AS sebagai batas krusial. Head of Research CoinShares, James Butterfill, memberi peringatan tegas.

“Jika level 70.000 dollar AS gagal dipertahankan, penurunan ke kisaran 60.000–65.000 dollar AS sangat mungkin terjadi,” ujarnya.

Kepanikan investor tercermin dari lonjakan likuidasi kripto. Data Coinglass mencatat lebih dari 2 miliar dollar AS posisi long dan short bitcoin dan altcoin dilikuidasi sepanjang pekan ini.

Tekanan paling serius datang dari investor institusi kripto. Laporan CryptoQuant menyebut permintaan institusional berbalik arah secara tajam.

“Permintaan institusional telah berbalik secara signifikan,” tulis CryptoQuant dalam laporannya.

ETF bitcoin di Amerika Serikat yang tahun lalu menyerap 46.000 BTC, kini berubah menjadi penjual bersih pada 2026. Kondisi ini memperberat tekanan pada harga bitcoin hari ini.

CryptoQuant juga menyoroti sinyal teknikal penting. Harga bitcoin BTC telah menembus moving average 365 hari untuk pertama kalinya sejak Maret 2022.

“Bitcoin telah turun 23 persen dalam 83 hari sejak penembusan ini, lebih buruk dibanding fase awal penurunan 2022,” tulis analis CryptoQuant.

CEO FG Nexus, Maja Vujinovic, menegaskan pasar kripto telah berubah arah.

“Bitcoin tidak lagi diperdagangkan berdasarkan hype. Cerita besarnya telah kehilangan daya tarik dan kini digerakkan murni oleh likuiditas serta arus modal,” ujarnya.

Dengan harga bitcoin melemah, investor institusi mundur, likuidasi meningkat, dan narasi lama runtuh, pasar kripto kini berada di titik kritis. Pertanyaannya bukan lagi soal reli, melainkan seberapa dalam harga bitcoin akan turun berikutnya.

Share This Article