BMKG Bunyikan Alarm Cuaca Laut, Dua Bibit Siklon Mengancam Perairan Indonesia

4 Min Read
BMKG Bunyikan Alarm Cuaca Laut, Dua Bibit Siklon Mengancam Perairan Indonesia (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Cuaca ekstrem kembali mengintai wilayah perairan Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan dua bibit siklon tropis yang berpotensi memicu gelombang tinggi di sejumlah perairan nasional.

Dua sistem cuaca tersebut masing-masing diberi kode Bibit Siklon Tropis 93S dan Bibit Siklon Tropis 95W. Keduanya terpantau aktif pada awal Maret 2026 dan mulai memengaruhi dinamika cuaca laut di beberapa wilayah Indonesia.

Melalui pusat pemantauan Tropical Cyclone Warning Centre Jakarta, BMKG menyebutkan meskipun peluang kedua bibit siklon berkembang menjadi badai tropis dalam waktu dekat masih tergolong rendah, dampaknya tetap perlu diwaspadai.

Pasalnya, sistem cuaca ini dapat memicu peningkatan tinggi gelombang laut yang berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran dan nelayan.

Bibit Siklon 93S Terpantau di Selatan Jawa

BMKG mencatat Bibit Siklon Tropis 93S mulai terbentuk sejak 2 Maret 2026 di wilayah Samudra Hindia, tepatnya di perairan selatan Jawa Barat.

Berdasarkan analisis meteorologi terbaru, sistem ini bergerak perlahan ke arah barat daya. Walaupun peluangnya untuk berkembang menjadi siklon tropis masih rendah dalam 24 jam ke depan, pergerakannya tetap memicu perubahan kondisi gelombang laut.

BMKG memperingatkan bahwa dampak tidak langsung dari bibit siklon ini bisa menyebabkan peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan selatan Indonesia.

Beberapa wilayah yang berpotensi terdampak di antaranya:

Selat Bali bagian selatan

Perairan selatan Bali hingga Nusa Tenggara Timur

Laut Sawu

Di wilayah tersebut, tinggi gelombang diperkirakan dapat mencapai 1,25 hingga 2,5 meter.

Namun kondisi yang lebih ekstrem berpotensi terjadi di wilayah perairan terbuka Samudra Hindia.

BMKG memprediksi gelombang sangat tinggi berkisar 2,5 hingga 4 meter dapat terjadi di kawasan Samudra Hindia selatan Jawa Barat hingga perairan Nusa Tenggara.

Bibit Siklon 95W Muncul di Pasifik Utara Papua

Selain sistem cuaca di selatan Indonesia, BMKG juga memantau kemunculan Bibit Siklon Tropis 95W yang berada di wilayah berbeda.

Bibit siklon ini awalnya terbentuk di luar wilayah pemantauan Indonesia pada 4 Maret 2026. Namun sejak 6 Maret, sistem tersebut masuk dalam area monitoring BMKG.

Saat ini posisi bibit siklon berada di wilayah Samudra Pasifik bagian utara Papua dan bergerak perlahan menuju arah barat laut.

Meski peluangnya untuk berkembang menjadi badai tropis juga tergolong rendah, keberadaan sistem ini tetap dapat memengaruhi pola cuaca dan kondisi laut di kawasan timur Indonesia.

Perubahan tekanan udara akibat bibit siklon dapat memicu peningkatan kecepatan angin, yang pada akhirnya memicu pembentukan gelombang lebih tinggi di sejumlah perairan.

Nelayan dan Kapal Diminta Waspada

BMKG mengingatkan masyarakat pesisir, nelayan, serta operator kapal agar lebih waspada terhadap potensi perubahan cuaca dan kondisi gelombang laut.

Gelombang tinggi berisiko terhadap kapal berukuran kecil hingga menengah, terutama yang beroperasi di perairan terbuka.

Selain itu, aktivitas wisata bahari dan transportasi laut juga diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terbaru sebelum melakukan perjalanan.

BMKG menegaskan bahwa meskipun bibit siklon belum berkembang menjadi badai tropis, dampaknya tetap bisa dirasakan melalui peningkatan tinggi gelombang, angin kencang, serta perubahan pola cuaca.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika atmosfer di wilayah Indonesia masih cukup aktif pada awal Maret.

Karena itu masyarakat diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG agar dapat mengantisipasi potensi risiko yang mungkin terjadi di wilayah perairan Indonesia.

Editor: Adi

Share This Article