Chevron Siap Tambah Produksi di Venezuela, Exxon Masih Ragu Investasi

3 Min Read
Chevron Siap Tambah Produksi di Venezuela, Exxon Masih Ragu Investasi (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Exxon Mobil kembali menyorot perhatian dunia energi. Perusahaan minyak asal Amerika Serikat ini menyatakan siap mengevaluasi kemungkinan kembali beroperasi di Venezuela, hampir 20 tahun setelah aset mereka dinasionalisasi oleh pemerintah negara itu.

CEO Exxon Mobil, Darren Woods, menegaskan bahwa Venezuela saat ini masih tidak layak investasi. Woods menambahkan, dibutuhkan perubahan hukum yang signifikan serta jaminan perlindungan investasi yang jelas sebelum perusahaan dapat mengirim tim teknis untuk menilai kondisi industri dan aset di negara tersebut.

“Kunjungan tim teknis ini baru dapat dilakukan setelah jaminan keamanan yang memadai tersedia,” Darren Woods, Dikutip dari Reutrest. Sabtu, 10 Januari 2026.

Pernyataan Woods disampaikan dalam pertemuan mendadak dengan Presiden AS, Donald Trump, di Gedung Putih, hanya beberapa hari setelah pasukan Amerika berhasil menyingkirkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dalam operasi malam hari yang dramatis. Woods menekankan pentingnya memahami langkah-langkah yang diperlukan untuk mengembalikan produksi minyak Venezuela ke pasar global.

“Kami telah dua kali kehilangan aset di sana. Masuk kembali untuk ketiga kalinya tentu membutuhkan perubahan besar dibanding pengalaman sebelumnya,” kata Woods.

Di sisi lain, Chevron, yang saat ini menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela, menegaskan kesiapan untuk meningkatkan produksinya. Wakil Ketua Chevron, Mark Nelson, menyatakan perusahaan siap menggandakan volume produksi dari usaha bersama dengan PDVSA, perusahaan minyak milik negara Venezuela, secara segera. Chevron juga menargetkan peningkatan produksi hingga 50% dalam 18–24 bulan melalui investasi internal.

Selama beberapa dekade, Exxon, ConocoPhillips, dan Chevron merupakan mitra utama PDVSA dalam pengembangan Cadangan Orinoco, kawasan produksi minyak utama Venezuela saat ini. Pemerintah Venezuela di era Presiden Hugo Chavez menasionalisasi industri antara 2004–2007. Chevron berhasil bernegosiasi untuk tetap beroperasi, sedangkan Exxon dan ConocoPhillips meninggalkan negara itu dan menempuh jalur arbitrase internasional.

Venezuela kini berutang lebih dari US$13 miliar kepada Exxon dan ConocoPhillips terkait ekspropriasi aset. ConocoPhillips bahkan berupaya menyita aset PDVSA di luar negeri dan mengikuti lelang anak perusahaan Citgo Petroleum di Delaware untuk memulihkan sebagian dana yang terutang.

CEO ConocoPhillips, Ryan Lance, menambahkan bahwa PDVSA kemungkinan perlu direstrukturisasi jika perusahaan mempertimbangkan kembali operasi di Venezuela. Lance menekankan bahwa keterlibatan lembaga perbankan, termasuk Exim Bank, diperlukan untuk menyediakan pendanaan yang cukup guna memperbaiki infrastruktur energi negara itu.

Presiden Trump menanggapi dengan optimis, menyebut perusahaan akan dapat memulihkan sebagian besar dana mereka dan menekankan bahwa proses ke depan harus dimulai dengan “papan bersih” tanpa membebani kerugian masa lalu.

Penulis:Sultoni/Editor: Sukri

Share This Article