Cinta Ditolak, Kapak Bertindak: Kisah Tragis Mahasiswi Dibacok Rekan KKN

3 Min Read
Cinta Ditolak, Kapak Bertindak: Kisah Tragis Mahasiswi Dibacok Rekan KKN.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Kasus pembacokan terhadap mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Suska Riau, Farradhila Ayu Pramesti (23), mengungkap fakta baru terkait latar belakang hubungan korban dan pelaku. Peristiwa ini menghebohkan publik karena diduga dipicu perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Pelaku diketahui bernama Reyhan Mufazar (22), yang menyimpan perasaan terhadap korban sejak keduanya mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam satu kelompok.

Informasi tersebut disampaikan oleh Daffa, rekan satu kelompok KKN mereka. Menurutnya, perkenalan antara korban dan pelaku berlangsung secara wajar seperti mahasiswa pada umumnya.

“Setahu saya mereka kenalnya dari tempat KKN karena memang satu kelompok. Awalnya biasa saja, tidak ada yang aneh,” ujar Daffa, Jumat (27/2/2026).

Daffa menuturkan bahwa korban dikenal sebagai pribadi yang ramah, sopan, dan mudah bergaul. Ia kerap menunjukkan perhatian kepada teman-temannya, terutama sesama mahasiswa satu jurusan.

“Kalau lagi makan atau kumpul, Fara suka mengingatkan teman-teman. Mungkin karena sering bareng, pelaku merasa punya hubungan khusus,” katanya.

Perhatian tersebut diduga disalahartikan oleh pelaku. Daffa menilai sifat pelaku yang tertutup dan jarang berinteraksi dengan perempuan membuatnya mudah terbawa perasaan.

“Mungkin karena dia introvert dan belum pernah dekat sama perempuan, jadi ketika diperlakukan baik, langsung baper,” ungkap Daffa.

Padahal, korban telah beberapa kali menegaskan bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman. Bahkan, korban diketahui sudah memiliki kekasih.

“Fara sudah bilang kalau dia punya pacar. Dia juga sering bilang, ‘kita teman saja’, tapi kayaknya tidak diterima,” jelas Daffa.

Karena merasa tidak nyaman, korban mulai membatasi komunikasi hingga memblokir pelaku di media sosial. Namun, hal itu tidak sepenuhnya menghentikan upaya pendekatan Reyhan.

Pelaku bahkan sempat mendatangi rumah korban tanpa sepengetahuan korban terlebih dahulu. Kejadian tersebut membuat korban semakin merasa terganggu dan takut.

“Tiba-tiba dia datang ke rumah Fara. Korbannya sendiri kaget karena tidak pernah mengundang,” ujar Daffa.

Sejak memasuki semester delapan, hubungan keduanya semakin renggang. Korban terus menghindar, sementara pelaku justru semakin menunjukkan sikap obsesif dan sulit menerima penolakan.

“Fara selalu bilang jangan diganggu lagi, tapi pelaku tetap mendekat,” tambahnya.

Penolakan demi penolakan diduga menjadi pemicu utama tindakan kekerasan tersebut. Pelaku disebut telah mempersiapkan kapak dan parang sebelum melancarkan serangan terhadap korban.

Peristiwa berdarah itu terjadi saat korban hendak mengikuti ujian seminar proposal pada Kamis (26/2/2026) pagi. Pelaku mengayunkan kapak sebanyak tiga kali hingga korban mengalami luka serius di tangan dan kepala.

Petugas keamanan kampus segera bertindak cepat dengan memberikan pertolongan pertama sebelum korban dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Sementara itu, pihak kampus dan kepolisian terus mendalami kasus ini guna memastikan proses hukum berjalan secara adil.

Share This Article