YOGYAKARTA,NOLESKABAR.COM- Tradisi padusan yang biasanya jadi momen sakral jelang Ramadhan tahun ini dihadapkan pada ancaman nyata. Cuaca ekstrem yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuat aktivitas bersuci di sungai maupun pantai berubah dari ritual budaya menjadi potensi bencana.
Pemerintah daerah tak tinggal diam. Kepala Satpol PP DIY, Bagas Senoaji, secara tegas mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri melakukan padusan di lokasi berisiko. Pantai selatan dan aliran sungai disebut sebagai titik paling rawan di tengah cuaca yang tak menentu dalam beberapa hari terakhir.
“Keselamatan harus jadi prioritas. Jangan karena tradisi, lalu mengabaikan risiko,” tegasnya,
Senin (16/2/2026).DIY memang tengah diselimuti kondisi atmosfer yang labil. Hujan deras disertai angin kencang berpotensi terjadi sewaktu-waktu. Ombak tinggi di pesisir selatan serta debit sungai yang bisa melonjak tiba-tiba menjadi ancaman nyata, terutama bagi warga yang berbondong-bondong melakukan padusan menjelang awal puasa.
Fenomena ini diperparah dengan karakter sungai-sungai besar di Yogyakarta yang berhulu di lereng Merapi. Artinya, hujan deras di wilayah hulu bisa memicu banjir bandang di hilir tanpa peringatan yang kasatmata.
Di satu titik cuaca bisa terlihat cerah, namun di bagian atas sudah terjadi hujan lebat yang mengirimkan gelombang air deras ke bawah.Satlinmas Rescue Istimewa disebut telah disiagakan untuk patroli dan memberikan peringatan di kawasan pantai.
Namun pendekatan yang dikedepankan adalah pencegahan, bukan sekadar respons setelah korban berjatuhan.
“Lebih baik mencegah daripada menolong korban,” ujar Bagas lugas.
Padusan sendiri merupakan tradisi masyarakat Jawa untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan. Biasanya dilakukan di sumber mata air, sungai, atau pantai.
Namun di tengah cuaca ekstrem, pilihan lokasi menjadi krusial.Pemerintah tidak melarang tradisi tersebut, tetapi meminta warga lebih bijak menentukan tempat. Umbul atau mata air yang relatif aman bisa menjadi alternatif. Yang ditekankan adalah menghindari sungai terbuka dan kawasan pantai yang saat ini berisiko tinggi.
Libur panjang juga membuat jumlah wisatawan diprediksi meningkat. Kombinasi antara tradisi, momen liburan, dan kondisi cuaca buruk bisa menjadi “bom waktu” jika tak diantisipasi.Cuaca ekstrem bukan sekadar istilah. Di berbagai daerah, pohon tumbang, rumah rusak, hingga korban jiwa telah terjadi akibat angin kencang dan hujan deras.
Yogyakarta tak kebal terhadap ancaman serupa.Pesan pemerintah jelas: jangan uji nyali dengan alam. Tradisi bisa tetap dijalankan tanpa mempertaruhkan keselamatan.
Ramadhan adalah momentum penyucian diri, bukan ajang mengambil risiko yang tak perlu.Masyarakat diminta lebih waspada, memantau perkembangan cuaca, dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Kesadaran kolektif menjadi kunci agar tradisi tetap hidup tanpa memakan korban.Di tengah suasana religius menjelang puasa, satu hal yang tak boleh dilupakan: keselamatan adalah bagian dari ikhtiar. Jangan sampai niat baik berubah menjadi penyesalan.
Penulis:NL
