JAKARTA, NOLESKABAR.COM- Akhir pekan ini, ruang publik diwarnai isu yang kontras: spiritualitas, ketertiban kota, geopolitik global, ekonomi kreatif, hingga perang melawan narkoba. Lima peristiwa mencuat dan menyedot perhatian, masing-masing dengan gaung yang berbeda namun sama-sama kuat.
Di Cibinong, Pemerintah Kabupaten Bogor menghadirkan pameran artefak Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di kawasan Pakansari selama Ramadhan 1447 Hijriah. Helai rambut hingga sandal yang dikaitkan dengan Rasulullah dipamerkan di sekitar Masjid Raya Nurul Wathon. Antusiasme masyarakat tinggi. Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar pameran—melainkan pengalaman spiritual yang langka dan menggetarkan.
Sementara itu, di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI tak lagi memberi ruang kompromi bagi lapangan padel yang dianggap melanggar aturan. Sejumlah fasilitas olahraga itu dipersoalkan karena memicu kebisingan, mengganggu lingkungan, bahkan disebut belum mengantongi izin warga. Pesannya tegas: hobi dan bisnis tak boleh berdiri di atas ketidaknyamanan publik. Penertiban akan dilakukan tanpa ragu.
Dari panggung internasional, keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan sejumlah kebijakan tarif era Donald Trump menjadi pukulan telak bagi dinamika perdagangan global. Putusan itu dinilai mereduksi pengaruh kebijakan proteksionis yang sebelumnya digadang-gadang sebagai tameng ekonomi Amerika. Efeknya tak hanya terasa di Washington, tetapi juga menggema ke pasar dunia.
Di dalam negeri, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong tumpeng ikon kuliner sarat makna untuk didaftarkan sebagai kekayaan intelektual. Langkah ini bukan sekadar simbolik. Negara ingin memastikan warisan gastronomi Nusantara punya perlindungan hukum sekaligus nilai tambah ekonomi. Tumpeng tak lagi hanya hadir di hajatan; ia diproyeksikan menjadi aset budaya yang bernilai komersial dan strategis.
Di sisi lain, Kejaksaan Agung mengungkap fakta keras dalam kasus penyelundupan sabu hampir dua ton di perairan Kepulauan Riau. Enam terdakwa dituntut hukuman mati karena disebut sadar sepenuhnya membawa narkotika dalam jumlah masif. Negara ingin mengirim pesan jelas: perang terhadap narkoba bukan slogan, melainkan sikap tanpa kompromi.
Dari ruang ibadah hingga ruang sidang, dari lapangan olahraga hingga mahkamah tertinggi dunia hari ini publik disuguhi potret realitas yang tajam. Isu-isu itu berdiri sendiri, tetapi satu benang merahnya jelas: aturan, nilai, dan kepentingan publik sedang diuji di berbagai lini.
Penulis:NL
