Dolar AS Kembali Menggigit di Level Rp16.745, Rupiah Tertekan

3 Min Read
Dolar AS Kembali Menggigit di Level Rp16.745, Rupiah Tertekan (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Awal tahun 2026 belum sepenuhnya ramah bagi rupiah. Mata uang Garuda kembali tertekan dan harus mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang pada perdagangan Selasa (6/1/2026) menembus level Rp16.745 per dolar AS.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah tipis 0,06%. Meski persentasenya terlihat kecil, tekanan ini menandai pelemahan rupiah selama tiga hari perdagangan berturut-turut sejak kalender 2026 dibuka. Sebuah sinyal bahwa pasar masih belum sepenuhnya nyaman.

Padahal, pagi hari sempat memberi secercah harapan. Rupiah dibuka menguat tipis di kisaran Rp16.730 per dolar AS. Namun, optimisme itu tak bertahan lama. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bergerak fluktuatif di rentang Rp16.720 hingga Rp16.765 sebelum akhirnya kembali menyerah di zona merah.

Ironisnya, pelemahan rupiah terjadi di saat dolar AS justru sedang kehilangan tenaga. Indeks dolar (DXY) tercatat melemah tipis 0,05% ke level 98,220 pada sore hari. Namun momentum tersebut gagal dimanfaatkan rupiah untuk bangkit.

Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Dari luar negeri, pasar global masih dibayangi ketidakpastian. Data indeks manufaktur ISM AS untuk Desember kembali menunjukkan kontraksi lebih dalam ke level 47,9 menjadi pelemahan terdalam dalam 14 bulan terakhir. Data ini sempat menekan dolar karena memicu kekhawatiran terhadap kesehatan sektor industri Negeri Paman Sam.

Namun, tekanan pada dolar tak berlangsung lama. Ketegangan geopolitik di Venezuela mendorong investor kembali berburu aset aman (safe haven). Di saat yang sama, pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat bank sentral AS membuat dolar kembali mendapatkan pijakan.

Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, menyebut suku bunga AS saat ini sudah mendekati level netral. Sementara Presiden The Fed Philadelphia, Anna Paulson, menegaskan bahwa peluang penyesuaian suku bunga lanjutan tetap terbuka, selama inflasi dan pasar tenaga kerja bergerak sesuai ekspektasi.

Pasar pun bergerak hati-hati. Probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 27–28 Januari 2026 saat ini diperkirakan hanya sekitar 16%. Meski begitu, untuk jangka menengah, pelaku pasar masih melihat peluang pemangkasan total sekitar 50 basis poin sepanjang tahun 2026.

Kombinasi sentimen global mulai dari ketegangan geopolitik, arah kebijakan moneter The Fed, hingga sikap wait and see investor membuat rupiah belum mampu keluar dari tekanan. Hingga penutupan perdagangan hari ini, mata uang Garuda masih tertahan di zona pelemahan, menandai awal tahun yang penuh tantangan bagi pasar keuangan domestik.

Editor: Sultoni

Share This Article