JAKARTA,NOLESKABAR.COM- Pasar emas diguncang koreksi brutal. Harga logam mulia dunia ambruk dan terseret turun dari level psikologis 5.000 dolar AS per troy ons. Dampaknya langsung terasa di dalam negeri: emas batangan produksi Antam dipangkas tajam.
Di pasar global, harga emas spot ditutup di kisaran 4.905 dolar AS per troy ons, merosot sekitar 3,5 persen dalam satu sesi. Ini bukan sekadar koreksi biasa ini penurunan terdalam dalam sepekan terakhir, sekaligus sinyal bahwa pelaku pasar sedang melakukan aksi jual besar-besaran.
Jatuh Tanpa “Isu Besar”, Tapi Tekanan Nyata Menariknya, kejatuhan ini tidak dipicu satu sentimen fundamental tunggal. Tidak ada kejutan kebijakan bank sentral, tidak ada krisis geopolitik baru.
Sejumlah analis menilai tekanan lebih bersifat teknikal: ketika harga gagal bertahan di atas 5.000 dolar AS, sistem algoritma dan robot trading memicu aksi jual otomatis secara masif.Pada saat bersamaan, bursa saham Amerika Serikat terkoreksi.
Tekanan di indeks utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq memperburuk sentimen global. Dalam kondisi seperti ini, emas yang biasanya disebut aset lindung nilai ikut terkena likuidasi karena investor butuh dana cepat untuk menutup posisi di instrumen lain.
Antam Terkoreksi TajamEfek domino langsung menghantam pasar domestik. Harga emas Antam untuk pecahan 1 gram turun Rp43.000, kini berada di level Rp2.904.000 per gram.Tak hanya harga jual, harga buyback atau pembelian kembali juga ikut terseret.
Nilainya turun Rp53.000, kini berada di sekitar Rp2.688.000 per gram.Penurunan ini menjadi pukulan bagi investor ritel yang dalam beberapa pekan terakhir menikmati reli harga emas di level tinggi. Euforia yang sempat memuncak kini berubah menjadi kewaspadaan.
Alarm atau Peluang?Sebagian pelaku pasar melihat kondisi ini sebagai alarm risiko. Namun sebagian lain justru menilainya sebagai peluang akumulasi di harga diskon. Sejarah menunjukkan, koreksi tajam sering kali membuka ruang rebound meski waktunya tak pernah pasti.Yang jelas, emas tidak kebal dari gejolak pasar.
Ketika tekanan teknis dan aksi jual sistemik bertemu, bahkan aset “aman” pun bisa tersungkur.Kini pertanyaannya: ini sekadar koreksi sehat, atau awal fase penurunan lebih dalam? Pelaku pasar akan menjawabnya dalam beberapa hari ke depan.
Penulis:NL
