Jakarta, NOLESKABAR.COM– Indonesia menatap usia satu abad kemerdekaan pada 2045 dengan visi besar: menjadi negara maju, modern, berdaulat, berkeadilan, dan berpengaruh di dunia internasional.
Dikutip dari Antara, Guru Besar Ilmu Politik dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof. Yunanto, kunci pencapaian Indonesia Emas 2045 bukan sekadar kekayaan sumber daya alam atau jumlah penduduk, melainkan soft power: nilai, budaya, demokrasi, dan kualitas kebijakan publik.
“Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengelolanya,” ujar Yunanto dalam orasi ilmiahnya di kampus UMJ, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (13/1/2026).
Prof. Yunanto menekankan pentingnya belajar dari sejarah. Ia menyinggung pesan Al-Quran dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 tentang menyiapkan masa depan dengan memahami apa yang telah terjadi di masa lalu.
“Masa depan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarahnya. Visi Indonesia Emas 2045 harus dibangun di atas refleksi jujur atas capaian dan kegagalan bangsa ini,” kata dia.
Visi Indonesia Emas 2045 mencakup pembangunan manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerataan ekonomi, serta ketahanan nasional. Optimisme ini juga diperkuat oleh proyeksi ekonomi global.
Laporan Goldman Sachs Global Economics Paper memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu dari tujuh ekonomi terbesar dunia pada 2045, sejajar dengan Amerika Serikat, China, India, Jepang, Jerman, dan Inggris.
“Optimisme ini bukan sekadar mimpi. Indonesia memiliki dasar objektif untuk mencapainya, asalkan dikelola dengan strategi yang tepat,” tambah Prof. Yunanto.
Ia menyoroti perjalanan panjang Indonesia dalam membangun soft power. Pada era Orde Lama, Indonesia memimpin gerakan anti-kolonialisme dan Konferensi Asia Afrika 1955, yang melahirkan semangat Non-Blok. Di era Orde Baru, stabilitas, perdamaian, dan pluralisme menjadi daya tarik Indonesia di Asia Tenggara dan berkontribusi pada pembentukan ASEAN.
Sementara pada era Reformasi, demokratisasi, penghormatan hak asasi manusia, dan moderasi beragama menjadi modal diplomasi utama. Nilai-nilai ini membuat Indonesia dipercaya sebagai mediator konflik dan aktor regional moderat. “Ini adalah aset soft power yang sangat berharga,” jelasnya.
Prof. Yunanto menekankan bahwa menguatkan soft power—dari budaya, nilai demokrasi, hingga kualitas kebijakan publik—adalah fondasi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. “Tanpa soft power, potensi besar Indonesia hanya akan menjadi angka, bukan kekuatan nyata di panggung global,” tutupnya.
