JAKARTA,NOLESBERITA.COM- Penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah memasuki babak krusial. Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar Sidang Isbat di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2), untuk memastikan kapan umat Islam Indonesia mulai berpuasa. Meski keputusan resmi menunggu hasil sidang, data astronomi sudah memberi sinyal kuat: 1 Ramadhan berpotensi jatuh pada Kamis, (19/2/).
Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, menegaskan bahwa secara perhitungan hisab dengan kriteria imkanur rukyat MABIMS, awal Ramadhan memang mengarah ke tanggal tersebut. Namun ia mengingatkan, hisab bukan palu keputusan akhir.
“Secara hisab, 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, (19/2). Tetapi hisab itu informatif. Penetapan tetap menunggu verifikasi rukyat dan diputuskan dalam sidang isbat,” tegas Cecep.
Faktanya, posisi hilal pada 29 Sya’ban atau (17/2)berada dalam kondisi yang secara teori mustahil terlihat.
Data menunjukkan tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih negatif, berkisar antara minus 2,41 derajat hingga minus 0,93 derajat. Artinya, saat matahari terbenam, hilal masih berada di bawah ufuk.Elongasinya pun belum menyentuh ambang aman.
Tercatat hanya berada di rentang 0,94 derajat sampai 1,89 derajat. Padahal, standar MABIMS mensyaratkan dua parameter harus terpenuhi sekaligus: tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
“Pada tanggal 29 Sya’ban, tidak ada satu pun wilayah di NKRI yang memenuhi kriteria visibilitas hilal. Secara teoritis, hilal mustahil dirukyat karena posisinya di bawah ufuk saat matahari terbenam,” ujar Cecep lugas.
Dengan kondisi itu, praktis peluang melihat hilal pada hari rukyat tertutup. Jika tidak ada laporan valid yang menyatakan hilal terlihat, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari. Konsekuensinya, awal Ramadhan jatuh pada Kamis, (19/2/).Sidang Isbat sendiri bukan sekadar formalitas.
Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, ormas Islam, ahli astronomi, serta perwakilan negara sahabat. Prosesnya diawali pemaparan data hisab, dilanjutkan laporan rukyat dari berbagai titik pemantauan di Indonesia, lalu ditutup dengan keputusan resmi Menteri Agama.Momentum ini kerap memunculkan perbedaan awal puasa di tengah masyarakat.
Namun pemerintah menekankan pentingnya tasamuh atau toleransi dalam menyikapi kemungkinan perbedaan. Kepastian tanggal bukan hanya soal hitungan derajat, melainkan juga soal menjaga persatuan umat.Kini publik menunggu hasil akhir Sidang Isbat.
Jika tak ada kejutan dari langit, umat Islam Indonesia hampir pasti menyambut Ramadhan pada Kamis, (19/2/). Satu hal yang jelas: secara sains, hilal belum layak tampil. Tinggal menunggu ketukan palu resmi pemerintah untuk mengumumkannya.
Penulis:NL
