JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Pergerakan pasar saham Indonesia pada Jumat (23/1) menunjukkan dinamika yang menarik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,20% ke level 8.992,18, turun 18,15 poin dari penutupan sebelumnya 9.010,33.
Meski IHSG turun, indeks saham unggulan justru mencatat penguatan. LQ45 naik 0,42% ke 875,11, dan IDX30 meningkat 0,59% ke 448,29, menandakan saham-saham blue chip masih menjadi incaran investor.
Saham berkelanjutan juga menunjukkan tren positif. SRI-Kehati naik 0,46%, sementara obligasi korporasi melalui PEFINDO i-Grade meningkat 0,52%, menunjukkan investor tetap mencari instrumen yang stabil di tengah volatilitas pasar.
Di pasar global, bursa utama bergerak positif. Dow Jones AS naik 0,63%, S&P 500 menguat 0,55%, DAX Jerman melonjak 1,20%, dan KOSPI Korea Selatan naik 1,30%, sementara Hang Seng stagnan di level 26.629,96.
Pengamat pasar menilai perbedaan arah IHSG dan bursa global menandakan sentimen investor lokal lebih berhati-hati. Pelemahan tipis IHSG dipicu aksi ambil untung setelah menembus level psikologis 9.000, meskipun optimisme pemulihan ekonomi global tetap mendorong bursa internasional.
Rentang pergerakan IHSG hari ini berada di 8.992,13 – 9.109,71, sementara rentang tahunan 5.882,61 – 9.174,47, menunjukkan volatilitas pasar domestik masih cukup tinggi.
Para analis menilai pergerakan IHSG beberapa hari ke depan kemungkinan akan mengikuti tren global, tergantung pada data ekonomi terbaru dan sentimen investor terhadap instrumen keuangan, energi, dan saham unggulan.
Rekomendasi investasi bagi investor saat ini adalah fokus pada instrumen yang relatif stabil. Saham blue chip seperti bank besar, perusahaan energi, dan konsumer tetap menjadi pilihan utama.
Selain itu, saham dividen dan saham berkelanjutan (ESG) juga menarik untuk dijadikan portofolio jangka menengah hingga panjang. Obligasi korporasi tetap menjadi alternatif untuk diversifikasi dan menjaga stabilitas pendapatan di tengah fluktuasi IHSG.
