NOLESKABAR.COM – Aku tidak pernah ingat kapan tepatnya hidup mulai terasa berat. Yang aku tahu, sejak lama aku terbiasa berjalan sendirian, menahan lelah, dan memeluk kecewa dalam diam. Seolah sejak awal, takdir sudah memutuskan bahwa aku bukan bagian dari orang-orang yang mudah bahagia.
Setiap pagi aku bangun dengan harapan kecil: semoga hari ini sedikit lebih ringan. Namun hampir selalu, harapan itu runtuh sebelum sempat tumbuh. Masalah datang tanpa aba-aba, kesedihan muncul tanpa permisi, dan aku kembali belajar tersenyum sambil menyembunyikan luka.
Aku melihat orang lain melangkah dengan mudah. Mimpi mereka terasa dekat, doa mereka cepat dijawab. Sementara aku harus jatuh berkali-kali hanya untuk berdiri di tempat yang sama. Aku berusaha keras, bekerja lebih kuat, bertahan lebih lama, tetapi hidup seperti tak pernah puas mengujiku.
Kadang aku bertanya pada langit di tengah malam, “Apa aku kurang baik? Apa aku kurang berusaha?” Namun yang menjawab hanya sunyi. Malam-malamku penuh dengan air mata yang tak pernah diperlihatkan pada siapa pun. Di siang hari aku tertawa, di malam hari aku hancur. Dunia hanya melihat aku yang kuat, tidak pernah melihat aku yang hampir menyerah.
Aku lelah menjadi orang yang selalu mengerti keadaan. Lelah menjadi orang yang selalu mengalah. Lelah menjadi orang yang harus berkata, “Tidak apa-apa,” padahal hatiku remuk. Ada saat-saat di mana aku ingin berhenti berharap, karena setiap harapan yang kutanam selalu mati sebelum berbunga, dan setiap mimpi yang kususun selalu runtuh sebelum menjadi nyata.
Aku bukan ingin hidup sempurna. Aku hanya ingin hidup yang adil. Aku hanya ingin sekali saja merasakan dipihak oleh keadaan, dipeluk oleh nasib, dan dikuatkan oleh takdir. Namun yang sering datang justru kehilangan, yang sering hadir justru kegagalan, dan yang setia menemani hanyalah rasa sakit.
Kadang aku merasa tidak penting, seolah keberadaanku hanya pelengkap cerita orang lain. Aku ada, tetapi tidak diperhatikan. Aku berjuang, tetapi tidak dihargai. Aku bertahan, tetapi tidak pernah dirayakan. Meski begitu, aku masih berjalan, dengan kaki yang gemetar, dengan hati yang penuh retak, dan dengan jiwa yang hampir kosong.
Bukan karena aku hebat, bukan karena aku kuat, tetapi karena aku tidak tahu harus berhenti di mana. Aku terus hidup meski sering ingin menyerah, terus tersenyum meski dadaku sesak, dan terus berharap meski takut kecewa lagi. Mungkin suatu hari nanti aku akan benar-benar bahagia, entah kapan. Untuk sekarang, aku hanya ingin mengakui satu hal: aku sedang sangat lelah, aku sedang sangat terluka, dan aku masih berusaha bertahan, meski hidup tak pernah benar-benar memihak padaku.
Penulis; Oj
