JAKARTA, NOLESKABAR.COM- Ambisi membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030 bukan lagi sekadar wacana manis di ruang konferensi pers. Target itu kini menjadi garis tegas yang harus ditapaki dengan kerja brutal, disiplin total, dan perubahan mental yang radikal.
Mantan arsitek skuad Garuda, Shin Tae-yong, menyuarakan keyakinannya bahwa Indonesia punya kans nyata menembus panggung terbesar sepak bola dunia. Namun ia menekankan satu hal yang tak bisa ditawar: fondasi tim harus dibangun secara sistematis, bukan tambal sulam. Struktur yang rapi, visi jangka panjang, dan fokus pemain adalah kunci bukan sekadar euforia sesaat.
Kini tongkat komando berada di tangan John Herdman. Sosok yang pernah mengubah Kanada dari tim medioker menjadi peserta Piala Dunia FIFA 2022. Itu bukan kebetulan. Ia dikenal keras dalam membangun budaya tim, menyatukan ruang ganti yang retak, dan menanamkan identitas bermain yang jelas.
Indonesia sudah merasakan pahitnya harapan yang runtuh di kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026. Momentum sempat ada, peluang terbuka, tetapi konsistensi menguap di saat genting. Pelajaran itu mahal. Terlalu mahal untuk diulang.
Herdman datang bukan untuk memoles kosmetik. Ia bergerak cepat: memantau Liga 1 dan Liga 2, menjalin komunikasi personal dengan pemain, membaca peta kekuatan dari akar. Pendekatannya sederhana tapi tajam bangun kebersamaan, pertegas peran, dan disiplinkan eksekusi.
Pertanyaannya kini bukan lagi “mampukah Indonesia?” melainkan “seberapa serius kita mau berubah?”Piala Dunia 2030 bukan mimpi kosong jika federasi konsisten, kompetisi domestik sehat, dan pemain berhenti puas dengan status “nyaris”. Garuda tak butuh slogan. Garuda butuh sistem.
Jika struktur dibangun dengan benar dan mentalitas bertarung ditanam sejak hari ini, 2030 bukan sekadar angka di kalender. Ia bisa menjadi titik balik sejarah sepak bola Indonesia.Dan kali ini, tak ada ruang untuk alasan.
Penulis:NL
