Misteri 13.000 Langkah Smartwatch Kopilot ATR Terungkap

3 Min Read
Helikopter SAR menyisir lereng Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, dalam upaya pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di medan terjal yang diselimuti kabut.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Harapan keluarga sempat menyala ketika smartwatch milik kopilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan, merekam aktivitas hingga 13.000 langkah kaki. Data itu memicu dugaan Farhan masih bergerak setelah pesawat rute Yogyakarta–Makassar jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Namun, misteri tersebut akhirnya terungkap. Basarnas memastikan data langkah kaki itu bukan terjadi setelah kecelakaan, melainkan rekaman lama yang tercatat beberapa bulan sebelumnya saat Farhan masih berada di Yogyakarta.

Kisah bermula ketika ponsel milik Farhan ditemukan oleh tim SAR di area hutan dan diserahkan kepada pihak keluarga. Ponsel tersebut masih terhubung dengan smartwatch yang dikenakan Farhan.

Seorang kerabat dari kekasih Farhan mengungkapkan bahwa perangkat itu mencatat pergerakan sejak Minggu pagi pukul 06.00 WITA. Jumlah langkah kaki terus bertambah hingga malam hari, bahkan mencapai 13.000 langkah.

“Dari pagi jam 6 ada beberapa langkah, terus bertambah sampai malam. Kami benar-benar berharap Farhan masih hidup,” ujarnya dalam sebuah video sambil terisak, bahkan sempat memohon bantuan Presiden Prabowo Subianto.

Staf SAR Mission Coordinator (SMC) Basarnas Makassar, Arman Amiruddin, membenarkan bahwa data pergerakan memang terbaca di smartwatch tersebut.

“Per jam 06.53 WITA terbaca sekitar 1.000 langkah, lalu terus bertambah hingga 13.000 langkah,” kata Arman di Posko AJU SAR Desa Tompobulu, Senin (19/1/2026).

Meski demikian, Arman menegaskan sejak awal bahwa data itu belum bisa dijadikan bukti korban masih hidup. Selama tiga hari pencarian, tim SAR tidak menemukan suara atau tanda permintaan pertolongan di lokasi.

Untuk memastikan keakuratan data, ponsel Farhan yang masih terkunci kemudian diserahkan ke Tim Siber Polda Sulawesi Selatan.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syafi’i akhirnya mengungkap hasil investigasi menyeluruh. Setelah perangkat dibuka dan ditelusuri, diketahui bahwa rekaman langkah kaki tersebut berasal dari beberapa bulan lalu, jauh sebelum kecelakaan terjadi.

“Setelah dibuka, ternyata data itu terekam saat korban masih berada di Yogyakarta. Jadi bukan setelah pesawat jatuh,” ujar Syafi’i di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Ia memastikan temuan tersebut telah dijelaskan kepada keluarga korban dan dapat dipahami dengan baik.

Empati untuk Keluarga, Pencarian Terus Dilanjutkan l, Syafi’i menegaskan bahwa pihaknya memahami harapan besar keluarga yang sempat muncul akibat data smartwatch tersebut.

“Kami sangat memahami perasaan keluarga. Karena itulah informasi ini sempat berkembang. Kami mohon doa, pencarian terus kami maksimalkan,” katanya.

Basarnas hingga kini mengerahkan berbagai armada, mulai dari pesawat, helikopter, hingga modifikasi cuaca demi memperbaiki kondisi di area pencarian yang sulit dijangkau.

Terkuaknya misteri 13.000 langkah kaki ini sekaligus menjadi pengingat bahwa data teknologi harus ditafsirkan secara cermat, terutama dalam situasi darurat. Meski harapan itu akhirnya pupus, upaya pencarian dan doa bagi para korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 terus berlanjut.

Share This Article