Olimpiade Musim Dingin 2026: Lompatan Malinin, Perdebatan Global

3 Min Read
Olimpiade Musim Dingin 2026: Lompatan Malinin, Perdebatan Global (Ilustrasi)

JAKARTA,NOLESKABAR.COM – Ilia Malinin, atlet seluncur indah Amerika Serikat, mencetak sejarah dengan melakukan backflip legal pertama di Olimpiade, dalam nomor tunggal putra, Jumat (13/2/2026). Gerakan ini menjadi sorotan dunia, sekaligus menimbulkan perbandingan dengan Surya Bonaly, atlet Prancis yang pernah melakukan gerakan serupa namun tidak diakui.

Performa Malinin di free skate membawa tim Amerika meraih emas, menampilkan sederet lompatan quadruple dan backflip dramatis yang menutup kompetisi dengan gemilang. Sosial media langsung ramai, sebagian mengkritik bahwa prestasi Bonaly dulu terabaikan, sebagian lainnya memuji Malinin sebagai “Quad God” karena kemampuan teknisnya yang luar biasa.

Di cabang skeleton, Vladyslav Heraskevych dari Ukraina diskualifikasi karena helmnya menampilkan gambar atlet yang tewas dalam perang Ukraina. Banding ke Court of Arbitration for Sport telah selesai, keputusan resmi menunggu, tetapi kontroversi tentang simbolisme dan kebijakan IOC tetap menjadi perbincangan hangat.

Kontroversi juga muncul dalam ice dance. Nilai juri Prancis mempengaruhi hasil akhir, yang membuat Madison Chock dan Evan Bates dari AS turun ke peringkat kedua. Keputusan ini memunculkan pertanyaan soal objektivitas penilaian dan transparansi sistem scoring di Olimpiade.

Sementara itu, aspek nutrisi atlet menjadi sorotan. Di Milan Olympic Village, menu khusus disiapkan untuk 3.400 atlet per hari, mencakup 3.000 telur dan 450 kilogram pasta. Nutrisi yang tepat dianggap sama pentingnya dengan jam latihan di es dan lintasan salju.

Brian Boitano, juara Olimpiade 1988, memberikan pujian untuk Malinin. “Dia menetapkan standar teknis lebih tinggi dari siapapun dalam sejarah olahraga ini. Semua lompatan dan gerakan yang ia lakukan membuat olahraga ini berkembang,” katanya.

Atlet lain, seperti Josie Baff dari Australia, memenangkan emas di snowboard cross wanita setelah kompetisi ketat. Sementara Julia Simon dari Prancis memunculkan kontroversi karena catatan hukum terkait penipuan kartu kredit meski berhasil meraih emas di biathlon.

Tallulah Proulx dari Filipina menjadi atlet termuda dan perempuan pertama dari negara tersebut yang berlaga di Olimpiade Musim Dingin, mencatatkan sejarah baru bagi negaranya.

Meski olahraga adalah panggung prestasi, Olimpiade 2026 menunjukkan bahwa politik, hukum, dan faktor sosial tetap ikut bermain, dari peraturan helm hingga penilaian juri, hingga diskusi soal ras dan pengakuan prestasi.

Olimpiade kali ini menjadi bukti bahwa prestasi atlet bukan hanya soal kemampuan fisik, tetapi juga bagaimana mereka dinilai dan dikenang dunia, sementara kontroversi dan sorotan media ikut membentuk narasi setiap langkah di atas es dan salju.

Editor: Sukri

Share This Article