JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Ketegangan di perbatasan Pakistan–Afghanistan kembali memanas. Pakistan mengonfirmasi telah melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan timur yang diklaim menargetkan basis kelompok militan.
Dikutip dari CNN, Minggu (22/2), pemerintah Pakistan menyebut operasi tersebut sebagai “serangan selektif berbasis intelijen” terhadap tujuh kamp militan yang dituding bertanggung jawab atas rangkaian serangan mematikan di wilayahnya dalam beberapa pekan terakhir.
Islamabad menyatakan target utama adalah Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) atau Taliban Pakistan, beserta afiliasinya, termasuk kelompok yang dikaitkan dengan ISIS. Pemerintah Pakistan menegaskan memiliki “bukti meyakinkan” bahwa serangan-serangan di Februari dikendalikan dari basis yang berada di Afghanistan.
Namun pemerintah Afghanistan bereaksi keras. Kementerian Pertahanan Afghanistan menyebut serangan tersebut sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional” dan bentuk nyata pelanggaran hukum internasional.
Serangan udara dilaporkan menghantam wilayah sipil di provinsi Nangarhar dan Paktika. Otoritas setempat menyebut sebuah seminari keagamaan dan sejumlah rumah warga turut terdampak.
Pejabat kepolisian di Nangarhar melaporkan sedikitnya 18 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Proses pencarian korban masih dilakukan di antara reruntuhan bangunan pada Minggu pagi.
Serangan ini terjadi setelah gelombang kekerasan di Pakistan dalam sebulan terakhir. Serangan terbaru menewaskan dua tentara, termasuk seorang letnan kolonel, di wilayah barat laut negara itu. Sebelumnya, ledakan bom bunuh diri di masjid Syiah di Islamabad juga menewaskan puluhan orang.
Pakistan telah lama menuduh Kabul memberi perlindungan kepada TTP, tuduhan yang berulang kali dibantah oleh Afghanistan.
Eskalasi terbaru ini menguji gencatan senjata rapuh yang berlaku sejak Oktober lalu, setelah kedua negara terlibat bentrokan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di sepanjang perbatasan yang membentang sekitar 1.600 mil.
Dengan jatuhnya korban sipil dan saling tuding yang kembali mengeras, stabilitas kawasan kini kembali berada dalam tekanan serius.
Editor: Sukri
