NOLESKABAR.COM – Jakarta – Ramadan kini menghadirkan sisi gelap yang jarang dibicarakan. Pasar takjil padat, anak-anak tenggelam di layar gadget, dan orang tua sibuk belanja—apakah bulan suci ini masih dijalani untuk ibadah atau sekadar gaya hidup?
Wacana libur sekolah penuh sempat muncul, namun ditepis pemerintah. Para ahli pendidikan menyoroti fakta bahwa di rumah, anak-anak sering dibiarkan bermain gadget berjam-jam, sementara fokus pada akhlak dan ibadah mulai terabaikan.
Pasar yang ramai memang mendorong ekonomi lokal, tapi belanja berlebihan dan penggunaan gadget yang tinggi dapat mengikis esensi Ramadan. Aktivitas utama seperti salat tarawih dan membaca Al-Quran kerap terlewat.Pendidik menekankan, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ini waktu untuk menahan hawa nafsu, memperbanyak amal, dan menjauhi hal sia-sia.
Sayangnya, sebagian keluarga modern menjadikan bulan suci sebagai ajang konsumtif dan hiburan semata.Pesan tegas bagi masyarakat: gunakan Ramadan untuk ibadah nyata dan pembentukan akhlak, bukan sekadar pamer gaya hidup. Jika tidak, bulan suci ini hanya menjadi rutinitas kosong tanpa makna.
