NOLESKABAR.COM – Ke’ Lesap adalah tokoh pemberontak yang muncul dari latar belakang pertapaan di Gunung Pajuddan. Ia dikenal memiliki kemampuan spiritual dan strategi yang kuat, sehingga lambat laun memperoleh simpati dari rakyat di sekitarnya. Dari tempat persembunyiannya, ia mulai merasa yakin bahwa dirinya cukup mampu memimpin pemberontakan, memanfaatkan keahlian dan kemasyhurannya untuk menggalang pengikut.
Dengan dukungan pasukan yang setia, Ke’ Lesap, dibantu oleh panglima perangnya Raden Buka, mulai menyerang kerajaan Sumenep pada tahun 1749. Pertempuran merebak di berbagai desa, dan tak butuh waktu lama bagi pasukan pemberontak untuk menduduki pusat pemerintahan Sumenep. Raja Sumenep saat itu, Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro IV atau Raden Alza (1744-1749), merasa takut dan melarikan diri bersama keluarganya ke Surabaya, melaporkan pemberontakan tersebut kepada Kompeni Belanda atau VOC.
Setelah merebut keraton Sumenep, Ke’ Lesap menempatkan Raden Buka sebagai penguasa sementara (1749-1750). Hal ini memperkuat posisi Ke’ Lesap di wilayah Sumenep, sekaligus menjadi pusat operasi bagi ekspansi pemberontakan ke wilayah lain di Madura. Strateginya memanfaatkan simpati rakyat dan ketidakhadiran penguasa lokal membuat wilayah-wilayah lain mudah dikuasai.
Langkah berikutnya, Ke’ Lesap bergerak ke Pamekasan melalui jalur selatan, melewati Bluto, Prenduan, dan Kaduaradan. Di setiap desa yang ia lalui, rakyat menyambutnya dengan hangat dan banyak bergabung sebagai pasukan pemberontak. Pamekasan pun jatuh dengan mudah karena raja setempat, Tumenggung Ario Adikoro IV (R. Ismail), sedang bepergian ke Semarang.
Ketika kembali dari Semarang, Raden Adikoro IV mendengar dari mertuanya, Cakraningrat V, bahwa wilayahnya telah direbut oleh Ke’ Lesap. Marah dan prihatin atas nasib rakyatnya, Adikoro IV segera mempersiapkan pasukan untuk melawan pemberontak. Ia menempuh perjalanan menuju Sampang untuk mengatur strategi sebelum melancarkan serangan balasan.
Di Sampang, seorang utusan Ke’ Lesap datang dengan membawa surat tantangan perang. Adikoro IV sangat marah, bahkan menolak makan, dan segera mencari siapa yang bersedia berperang bersamanya. Penghulu Bagandan menjadi yang pertama menyatakan kesetiaan untuk mati bersama pemimpinnya. Dengan keberanian itu, Adikoro IV memimpin pasukannya menuju Pamekasan.
Pertempuran di Pamekasan berlangsung sengit. Meskipun jumlah pasukan Adikoro IV sedikit, semangat juangnya luar biasa. Namun, di tengah pertempuran, ia terkena luka parah hingga ususnya keluar. Meski demikian, semangatnya tak padam, dan ia terus bertarung sampai akhirnya meninggal dunia di medan perang, diikuti gugurnya Penghulu Bagandan.
Kemenangan di Pamekasan semakin menguatkan posisi Ke’ Lesap. Ia kemudian melanjutkan pergerakannya ke Bangkalan, wilayah kekuasaan Pangeran Cakraningrat V. Di Bangkalan, pertempuran hebat terjadi karena pasukan Cakraningrat V memberikan perlawanan sengit. Meskipun demikian, pasukan Ke’ Lesap berhasil memukul mundur musuh.
Bantuan Kompeni Belanda dari Surabaya sempat datang untuk membantu Cakraningrat V, namun tidak mampu menahan gempuran pasukan pemberontak. Akhirnya, Cakraningrat V terpaksa mengungsi ke daerah Malajah, sementara benteng tetap dijaga oleh VOC. Ke’ Lesap pun menetapkan pesanggrahan di desa Tonjung sebagai markas operasinya.
Pemberontakan Ke’ Lesap menjadi salah satu contoh perlawanan rakyat Madura terhadap kekuasaan kerajaan dan kolonial Belanda. Keberhasilannya memanfaatkan simpati rakyat dan strategi militer membuat ia mampu menaklukkan sejumlah wilayah penting. Namun, di balik keberanian dan kejayaannya, konflik ini juga menimbulkan korban besar di kalangan pemimpin lokal dan rakyat, menggambarkan kompleksitas perjuangan di Madura pada pertengahan abad ke-18.
