NOLESKABAR.COM– Bulan Sya’ban sudah berjalan. Artinya, waktu menuju Ramadhan semakin dekat. Bagi umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadhan, Sya’ban menjadi momen penting untuk segera menyelesaikannya.
Puasa pengganti atau qadha adalah kewajiban bagi siapa pun yang meninggalkan puasa Ramadhan karena alasan tertentu. Kewajiban ini tidak boleh diabaikan, karena harus ditunaikan sebelum Ramadhan berikutnya tiba.
Di masyarakat, masih banyak yang ragu melakukan qadha puasa ketika Sya’ban sudah memasuki pertengahan bulan. Keraguan ini muncul karena anggapan bahwa puasa setelah Nisfu Sya’ban tidak diperbolehkan.
Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Larangan puasa setelah pertengahan Sya’ban hanya berlaku untuk puasa sunnah, bukan untuk puasa wajib seperti qadha Ramadhan.
Hal ini dilansir dari NUOnline.co.id yang menjelaskan bahwa qadha puasa tetap boleh dilakukan hingga menjelang Ramadhan, tanpa dibatasi tanggal 15 Sya’ban.
Namun, umat Islam tetap diingatkan agar tidak menunda qadha tanpa alasan. Sebab, menunda hingga Ramadhan berikutnya datang memiliki konsekuensi tambahan.
Jika seseorang lalai mengqadha puasa sampai Ramadhan kembali tiba, maka ia tidak hanya wajib mengganti puasanya, tetapi juga wajib membayar fidyah untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.
Fidyah tersebut berupa bahan makanan pokok sebanyak satu mud untuk setiap hari utang puasa. Ukurannya setara sekitar 543 gram beras.
Karena itu, Sya’ban seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyelesaikan kewajiban puasa yang tertunda, agar Ramadhan bisa dijalani dengan tenang dan tanpa beban.
Menyegerakan qadha bukan hanya soal menggugurkan kewajiban, tetapi juga bentuk kesiapan menyambut bulan suci.
Jika masih memiliki utang puasa, Sya’ban adalah waktunya. Jangan tunggu hingga Ramadhan datang dan kewajiban bertambah.
Penulis: Syah
