Ramadhan dan Ujian Lisan Seorang Muslim

2 Min Read
Ramadan dan Ujian Lisan Seorang Muslim.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Dalam beberapa hadis, Rasulullah mengingatkan bahwa nilai puasa dapat terkikis oleh perilaku buruk, terutama yang bersumber dari lisan dan hati. Di antaranya:

1. Berkata dusta
Puasa menuntut kejujuran. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dijelaskan bahwa Allah tidak membutuhkan seseorang meninggalkan makan dan minum jika ia tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta. Ini menunjukkan bahwa dusta bukan sekadar dosa, tetapi juga merusak esensi puasa itu sendiri.

2. Ghibah atau membicarakan aib orang lain
Menggunjing adalah kebiasaan lisan yang sering dianggap sepele. Padahal, ghibah menggerogoti pahala puasa. Seseorang boleh jadi terlihat saleh secara lahiriah, tetapi puasanya kehilangan nilai karena lisannya tidak terjaga.

3. Mengadu domba (namimah)
Mengadu domba menimbulkan permusuhan dan merusak persaudaraan. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa perbuatan ini termasuk yang menghilangkan pahala puasa. Ramadan seharusnya menjadi momentum mempererat ukhuwah, bukan justru memecahnya.

4. Berkata buruk atau berkata kasar
Ulama menegaskan bahwa lisan yang kotor dapat merusak kualitas puasa. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan bahwa celaan, makian, kebencian, dan permusuhan termasuk perilaku yang merusak kesempurnaan puasa. Ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya ibadah perut, tetapi juga ibadah akhlak.

Menjaga Puasa, Menjaga Diri

Puasa sejatinya adalah latihan mengendalikan diri. Lapar dan dahaga hanyalah pintu masuk menuju tujuan yang lebih besar, yaitu membentuk pribadi yang jujur, sabar, dan berakhlak mulia. Jika setelah seharian berpuasa seseorang masih ringan berdusta, gemar menggunjing, mudah marah, dan suka menyakiti orang lain, maka puasa belum benar-benar menyentuh hatinya.

Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki diri. Bukan hanya memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga menata akhlak, menjaga lisan, menenangkan emosi, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Dengan begitu, puasa tidak berhenti pada rasa lapar dan dahaga, melainkan berbuah pada ketakwaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis; Amin

Share This Article