Refleksi Bulan Suci Ramadhan, Kritik Sosial di Balik Puasa

5 Min Read
Refleksi Bulan Suci Ramadhan, Kritik Sosial di Balik Puasa (Ilustrasi)

NOLESKABAR.COM– Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid penuh. Ceramah bermunculan. Media sosial ramai dengan kutipan bijak tentang puasa dan kesabaran. Semua tampak religius. Semua terlihat lebih saleh. Namun pertanyaannya sederhana. Apakah puasa benar-benar mengubah kita. Ataukah hanya mengubah jadwal makan.

Puasa sering dipahami sebagai kewajiban menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga magrib. Padahal itu baru lapisan terluar. Jika maknanya berhenti di sana, maka kita sedang menyederhanakan sesuatu yang sejatinya sangat dalam.

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga

Menahan lapar itu latihan fisik. Tetapi puasa sejatinya adalah latihan batin. Ia melatih pengendalian diri. Mengendalikan amarah. Mengendalikan lisan. Mengendalikan keinginan untuk selalu dipenuhi.

Ironisnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita merasa lebih sensitif karena lapar. Lebih mudah tersinggung. Lebih mudah marah. Seolah-olah puasa memberi legitimasi untuk bersikap keras karena sedang menahan diri.

Padahal esensi puasa adalah menundukkan ego. Ego yang ingin dimaklumi. Ego yang ingin dihormati. Ego yang merasa lebih benar karena sedang beribadah.

Menundukkan Ego, Bukan Menuntut Dimaklumi

Budayawan Indonesia, Emha Ainun Najib, pernah mengingatkan bahwa puasa bukan untuk meminta penghormatan dari orang lain, melainkan untuk belajar menghormati sesama. Pesan ini terasa relevan. Terutama di tengah kecenderungan sebagian orang menjadikan puasa sebagai identitas simbolik.

Kita kadang ingin diperlakukan istimewa karena sedang berpuasa. Ingin semua orang memahami kondisi kita. Padahal justru dalam keadaan lapar itulah kita diuji. Apakah tetap santun. Apakah tetap adil. Apakah tetap menjaga lisan.

Puasa bukan panggung kesalehan. Ia adalah ruang latihan sunyi. Tidak perlu dipamerkan. Tidak perlu diumumkan. Yang penting adalah perubahan dalam sikap.

Empati yang Seharusnya Lahir dari Rasa Lapar

Salah satu dimensi terpenting puasa adalah empati sosial. Saat kita merasakan lapar beberapa jam, kita sedang diingatkan bahwa di luar sana ada yang merasakan lapar bukan karena ibadah, tetapi karena keterbatasan hidup.

Namun apakah rasa lapar itu benar-benar melahirkan kepedulian. Ataukah hanya menjadi cerita ringan saat berbuka bersama.

Setiap Ramadhan kita berbicara tentang sedekah dan zakat. Tentang berbagi dan kepedulian. Tetapi kesenjangan sosial tetap terasa nyata. Harga kebutuhan naik. Beban hidup makin berat bagi sebagian masyarakat. Sementara di sisi lain, Ramadhan justru menjadi musim konsumsi. Belanja meningkat. Meja berbuka semakin penuh.

Puasa yang seharusnya mengurangi nafsu justru kadang berujung pada pesta nafsu konsumsi.

Di sinilah refleksi menjadi penting. Apakah puasa telah menyentuh hati kita. Ataukah hanya menyentuh perut kita.

Puasa sebagai Pendidikan Integritas Moral

Puasa juga merupakan ujian integritas. Jika kita mampu menahan diri dari yang halal seperti makan dan minum, seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari yang jelas dilarang.

Apa artinya berpuasa jika masih mudah berbohong. Apa maknanya tarawih jika tetap berlaku curang. Apa gunanya tadarus jika masih ringan menyakiti orang lain.

Puasa mendidik konsistensi antara ibadah dan perilaku sosial. Ia mengajarkan bahwa kesalehan tidak berhenti di sajadah. Ia harus hadir dalam pekerjaan. Dalam keputusan. Dalam cara kita memperlakukan sesama.

Transformasi spiritual tanpa perubahan sosial hanyalah kesalehan yang terkurung di ruang pribadi.

Transformasi yang Seharusnya Berlanjut

Ramadhan adalah momentum. Ia seperti laboratorium kehidupan. Selama satu bulan kita dilatih. Ditempa kesabaran. Diuji kejujuran. Didorong untuk lebih peduli.

Tetapi hasilnya tidak diukur saat Ramadhan berlangsung. Hasilnya terlihat setelah ia berlalu. Apakah kita kembali seperti sebelumnya. Ataukah ada yang berubah dalam diri.

Puasa yang berhasil tidak selalu terlihat dramatis. Ia tampak dalam hal-hal kecil. Nada bicara yang lebih lembut. Sikap yang lebih sabar. Kepedulian yang lebih nyata. Keberanian untuk bersikap adil meski tidak populer.

Jika setelah Ramadhan kita tetap sama. Tetap abai pada ketidakadilan. Tetap nyaman dengan ego sendiri. Maka mungkin kita perlu bertanya ulang. Apakah yang kita jalani benar-benar puasa.

Puasa bukan sekadar kuat menahan lapar. Banyak orang bisa melakukannya. Puasa adalah tentang keberanian mengubah diri. Mengikis ego. Menguatkan empati. Menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Karena pada akhirnya, yang diuji bukan seberapa lama kita tidak makan. Tetapi seberapa jauh kita berubah setelah Ramadhan pergi.

Penulis ; Mohammad Amin

Share This Article