JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Tak ada dongeng yang lebih keras kepala dari kisah Dave Ryding. Di usia 39 tahun, pebalap slalom Inggris itu akan menutup karier Olimpiadenya pada Senin besok penampilan kelima di panggung terbesar olahraga musim dingin. Ia datang bukan sebagai favorit, melainkan sebagai penantang yang tak pernah berhenti menantang batas.
Ryding sudah melewati sembilan kejuaraan dunia. Prestasi terbaiknya adalah finis keenam di Saalbach tahun lalu. Ia pernah mencicipi satu kemenangan Piala Dunia di Kitzbuehel pada 2022 dan enam kali naik podium. Catatan yang bagi banyak atlet sudah cukup untuk pensiun dengan kepala tegak. Tapi bagi Ryding, belum.
Perjalanannya jauh dari glamor. Ia belajar ski di lereng kering Inggris barat laut, menghindari kotoran domba di lintasan sintetis. Di usia 21, ia masih bertahan dengan keyakinan yang lebih besar dari fasilitas yang ia miliki. “Dulu saya hanya bermimpi bisa tampil di satu Olimpiade dan masuk 30 besar dunia,” katanya di Bormio. Mimpi itu terdengar sederhana dan nyaris mustahil.
Ia menyebut orang tuanya, Carl (tukang pasang gas) dan Shirley (penata rambut), sebagai fondasi etos kerjanya. Tanpa “rencana cadangan”, tanpa jaring pengaman finansial, Ryding memilih jalur paling berisiko: berhasil atau pulang dengan tangan kosong. “Banyak atlet datang dari keluarga berada. Saya tidak. Kalau gagal, rekening kosong di usia 30. Saya siap dengan itu,” tegasnya.
Ryding memulai di Pendle Ski Club sejak umur delapan tahun dan baru merasakan salju asli di usia 12. Dari lereng kering itulah ia mengklaim membawa Inggris menembus 10 besar dunia di nomor slalom, sebuah anomali di negeri yang tak dikenal sebagai raksasa ski Alpen. “Cerita saya sangat personal. Tak ada yang menempuh jalan ini seperti saya,” ujarnya.
Setelah dua Olimpiade terakhir digelar di Asia, ia mengaku senang kembali berlomba di Eropa. Targetnya jelas: melampaui pencapaian terbaiknya peringkat sembilan di Pyeongchang 2018. “Saya merasa pernah menyisakan sesuatu di Olimpiade dan kejuaraan dunia. Tahun ini saya ingin membayar lunas,” katanya.
Lintasan Bormio disebutnya lebih “ramah” dibanding trek brutal seperti Wengen atau Kitzbuehel. Namun justru itu membuatnya waspada. “Ini soal gas penuh dari awal sampai akhir. Anak-anak muda lebih lincah. Saya hanya ‘rubah tua’,” ucapnya, setengah bergurau, setengah menantang.
Tak ada keluarga yang hadir menyaksikan. “Hanya saya, diri saya, dan saya,” katanya. Fokusnya tunggal: mengerahkan seluruh energi pada Senin, lalu pulang dan berbagi waktu dengan orang-orang terdekat. Medali? Ia tak menampiknya. “Itu tidak akan mendefinisikan saya sepenuhnya. Tapi tentu saja saya datang untuk memberi diri saya kesempatan itu.”
Di usia yang bagi banyak atlet sudah melewati puncak, Ryding memilih satu taruhan terakhir. Bukan sekadar melawan lawan di lintasan, melainkan melawan waktu dan keraguan yang dulu mengiringinya dari lereng kering Inggris hingga panggung Olimpiade. Senin nanti, ia ingin membuktikan satu hal: mimpi yang keras kepala kadang memang layak diperjuangkan sampai garis finis.
Penulis: Laily
