JAKARTA,NOLESKABAR.COM– Saham-saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tengah mengalami tekanan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah raksasa teknologi seperti Microsoft, Broadcom, hingga Oracle tercatat mengalami penurunan harga saham dari puncaknya.
Koreksi ini dipicu oleh meningkatnya keraguan investor terhadap nilai nyata teknologi AI yang selama ini digadang-gadang akan menjadi revolusi besar. Ekspektasi tinggi dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan hasil yang dirasakan di dunia nyata.
Meski demikian, kondisi ini justru dinilai sebagai peluang investasi jangka panjang. Analis menyebut fenomena ini sebagai bagian dari siklus alami perkembangan teknologi yang dikenal sebagai Gartner Hype Cycle, yang diperkenalkan oleh Gartner.
Dalam siklus tersebut, teknologi baru biasanya melewati lima tahap, mulai dari inovasi awal, puncak ekspektasi, hingga fase “lembah kekecewaan” (trough of disillusionment)—fase yang saat ini disebut sedang dialami oleh industri AI.
Pada fase ini, antusiasme pasar mulai mereda karena teknologi belum memberikan dampak sebesar yang diharapkan. Namun, fase tersebut justru menjadi titik awal menuju pemanfaatan yang lebih realistis dan menguntungkan.
Sejumlah survei menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen eksekutif perusahaan belum merasakan peningkatan produktivitas signifikan dari penggunaan AI. Hal ini memperkuat sentimen bahwa teknologi tersebut masih dalam tahap penyesuaian.
Meski begitu, prospek AI tetap dinilai cerah. Teknologi ini diperkirakan akan menemukan bentuk pemanfaatan yang lebih efektif, terutama di sektor seperti keamanan siber, analisis data, hingga pengolahan konten digital.
Beberapa perusahaan dinilai memiliki posisi kuat untuk memanfaatkan fase berikutnya. Selain Oracle, nama Alphabet Inc. disebut sebagai salah satu pemain utama, terutama melalui pengembangan layanan cloud dan AI yang terus berkembang.
Selain itu, perusahaan seperti UiPath dan Recursion Pharmaceuticals juga dinilai memiliki potensi besar berkat fokus mereka pada otomatisasi dan pengembangan obat berbasis AI.
Sebaliknya, tidak semua perusahaan teknologi besar dianggap unggul di fase ini. Beberapa analis menilai bahwa dominasi di sektor AI masih belum jelas, sehingga investor perlu lebih selektif dalam menentukan pilihan.
Analis menekankan bahwa fase “kekecewaan” ini bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju kematangan teknologi. Dalam sejarahnya, pola serupa pernah terjadi pada berbagai inovasi seperti internet, realitas virtual, hingga teknologi komunikasi digital.
Dengan demikian, tahun 2026 dinilai bisa menjadi momentum penting bagi investor untuk masuk ke saham AI, sebelum teknologi ini memasuki fase pertumbuhan yang lebih stabil dan menghasilkan.
Sumber: The Motley Fool
Editor: Adi
