SBY Soroti Hukum Internasional yang Kian Diabaikan

3 Min Read
SBY peringatkan hukum internasional kian diabaikan dan dorong kebangkitan multilateralisme saat berbicara di Tokyo Conference di Jepang. Ia menilai dunia perlu kembali mengedepankan dialog dan kerja sama global untuk menjaga stabilitas internasional.

JAKARTA. NOLESKABAR.COM –  Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, menyoroti semakin seringnya hukum internasional diabaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia. Ia menegaskan pentingnya membangkitkan kembali multilateralisme sebagai fondasi kerja sama global dalam menghadapi berbagai tantangan internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat menjadi pembicara utama dalam Tokyo Conference yang berlangsung pada 10–12 Maret di Tokyo, Jepang. Konferensi itu mempertemukan para pemimpin dan tokoh dunia untuk membahas dinamika global yang semakin kompleks.

Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, mengatakan kehadiran SBY dalam forum tersebut bertujuan menyumbangkan gagasan terkait peran Asia dalam menghadapi era kekuatan global serta pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional.

Menurut Nurmala, SBY menekankan bahwa kerja sama regional dan global perlu diperkuat agar dunia mampu menghadapi berbagai tantangan yang terus berkembang, mulai dari konflik geopolitik hingga perubahan tatanan internasional.

Dalam paparannya, SBY juga mengungkapkan keprihatinan atas banyaknya pelanggaran hukum internasional yang terjadi belakangan ini. Ia menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi sistem dunia yang berbasis aturan.

Ia mencontohkan beberapa konflik yang mencerminkan lemahnya kepatuhan terhadap hukum internasional, di antaranya ketegangan antara Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran serta perang yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina.

Menurut SBY, kekuasaan atau power yang dimiliki negara-negara besar seharusnya tidak berjalan tanpa kontrol. Dalam pandangannya, keseimbangan kekuatan antarnegara diperlukan untuk memastikan tatanan dunia tetap stabil.

“Power atau kekuasaan itu perlu dikontrol. Alat untuk mengontrol power adalah dengan power yang lainnya,” ujar SBY dalam forum tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa dunia yang selama ini dibangun di atas prinsip aturan bersama kini menghadapi tantangan baru. Oleh karena itu, dialog dan diplomasi harus kembali dikedepankan.

SBY mengajak negara-negara di dunia untuk kembali duduk bersama dan memperkuat kerja sama internasional demi menjaga stabilitas serta kepentingan bersama di tingkat global.

Dalam konferensi tersebut, SBY juga berbagi panggung dengan mantan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida yang saat ini menjabat sebagai Kepala Penasihat Tokyo Conference. Kishida menilai kawasan Asia menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh rivalitas kekuatan besar dan berbagai konflik global.

Share This Article