NOLESKABAR.COM – Banyak orang hari ini begitu mudah meninggikan suara kepada orang tua, membantah, mengabaikan, bahkan memperlakukan mereka seolah tidak lagi penting. Padahal, dalam ajaran Islam, durhaka kepada orang tua bukan sekadar kesalahan etika, melainkan termasuk dosa besar yang dampaknya menghancurkan kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.
Durhaka kepada orang tua bukan perkara kecil. Ini adalah pelanggaran serius yang langsung berhadapan dengan murka Allah. Ketika seorang anak melukai hati ayah dan ibunya, ia sejatinya sedang membuka pintu laknat dan menutup pintu rahmat dalam hidupnya sendiri.
Salah satu akibat paling mengerikan dari durhaka adalah mendapatkan laknat Allah. Artinya, seseorang hidup tanpa naungan kasih sayang-Nya. Hidup mungkin tetap berjalan, tetapi ketenangan, keberkahan, dan rasa cukup perlahan menghilang tanpa disadari.
Lebih jauh, durhaka menjadi penghalang besar untuk masuk ke surga. Banyak orang merasa cukup dengan ibadah formal, namun lupa bahwa ridho Allah sangat bergantung pada ridho orang tua. Tanpa itu, amal bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.
Tak hanya itu, durhaka juga berisiko menyeret seseorang pada su’ul khatimah atau akhir hidup yang buruk. Bayangkan, perjalanan hidup yang panjang justru ditutup dengan kondisi yang hina karena kelalaian menjaga adab dan bakti kepada orang tua.
Dalam banyak ajaran, adzab bagi orang yang durhaka tidak selalu ditunda hingga akhirat. Hukuman bisa dipercepat di dunia. Hidup penuh masalah, usaha selalu tersendat, rumah tangga tidak tenang, dan hati selalu gelisah menjadi tanda-tanda yang kerap dirasakan.
Dosa-dosa pun menjadi sulit terhapus. Taubat terasa berat, hati mengeras, dan penyesalan sering hanya berhenti di ucapan. Selama hubungan dengan orang tua tidak diperbaiki, pengampunan Allah seakan tertahan.
Lebih menyakitkan lagi, amal shalih berpotensi tidak diterima. Shalat, puasa, sedekah, dan ibadah lainnya bisa kehilangan bobotnya jika masih ada kedurhakaan kepada orang tua. Ini bukan ancaman kosong, tetapi peringatan keras dalam agama.
Rezeki pun dapat menjadi sempit dan tidak berkah. Bukan karena kurang usaha, tetapi karena hilangnya keberkahan. Banyak orang bekerja keras, namun hasilnya selalu habis, terasa kurang, dan tidak pernah membawa ketenangan.
Yang paling fatal, orang yang durhaka tidak mendapatkan ridho Allah. Ketika orang tua murka, murka Allah pun dekat. Sebaliknya, ketika orang tua ridho, pintu pertolongan dan kemudahan sering terbuka tanpa disangka.
Hidup tanpa keberkahan adalah hidup yang melelahkan. Harta tidak menenangkan, jabatan tidak membahagiakan, dan pencapaian tidak memberi makna. Semua terasa kosong karena keberkahan telah dicabut.
Doa-doa pun berisiko tidak terkabul. Langit seakan tertutup bagi permohonan orang yang masih menyakiti hati orang tuanya. Ini menjadi pengingat bahwa memperbaiki hubungan dengan orang tua adalah kunci terkabulnya banyak doa.
Yang paling menyedihkan, kedurhakaan juga bisa berbalik menjadi balasan dalam bentuk anak yang tidak berbakti. Siapa yang menanam durhaka, bisa menuai kedurhakaan dari generasi setelahnya. Ini bukan sekadar nasihat, tetapi hukum sebab-akibat yang nyata dalam kehidupan.
Artikel ini menjadi pengingat keras bahwa berbakti kepada orang tua bukan pilihan, melainkan kewajiban. Selama mereka masih hidup, pintu pahala masih terbuka. Namun jika mereka telah tiada, penyesalan sering datang terlambat. Sebelum terlambat, perbaiki sikap, jaga lisan, rendahkan hati, dan kejar ridho orang tua, karena di sanalah ridho Allah berada.
Penulis; syah
