Skor Telak, Mental Runtuh, Mimpi Final Memudar

3 Min Read
Skor Telak, Mental Runtuh, Mimpi Final Memudar (Ilustrasi)

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Harapan Barcelona untuk menjejakkan kaki di partai final Copa del Rey nyaris runtuh dalam satu malam yang kelam. Bertandang ke markas Atletico Madrid di Stadion Metropolitano, Jumat (13/2/2026) dini hari WIB, Blaugrana dipermalukan dengan skor telak 0-4 pada leg pertama semifinal.

Sejak menit awal, pasukan asuhan Diego Simeone tampil buas dan tanpa ampun. Barcelona dipaksa bertahan, terkurung, dan perlahan kehilangan arah permainan. Setiap sentuhan bola seolah diiringi tekanan, setiap upaya membangun serangan selalu kandas sebelum berkembang.

Petaka datang terlalu cepat. Baru tujuh menit laga berjalan, kesalahan fatal Eric Garcia berujung gol bunuh diri. Bola yang seharusnya dibuang justru bersarang di gawang sendiri. Momen itu seperti palu godam yang menghantam mental tim tamu. Wajah-wajah pemain Barca langsung berubah pucat, tegang, dan diliputi kecemasan.

Belum sempat bangkit, Barcelona kembali tersungkur. Menit ke-14, Antoine Griezmann menggandakan keunggulan tuan rumah. Skor 2-0 membuat permainan Barca semakin berantakan. Umpan tak lagi akurat, pergerakan kehilangan ritme, dan kepercayaan diri mulai terkikis.

Tekanan Atletico terus menggila. Menit ke-33, Ademola Lookman memperbesar keunggulan setelah memanfaatkan celah di lini belakang Barcelona. Para pemain Blaugrana tampak saling menatap dengan tatapan kosong seakan tak lagi menemukan jawaban di tengah derasnya serangan lawan.

Penderitaan belum berakhir. Menjelang turun minum, Julian Alvarez mencetak gol keempat lewat sepakan keras dari dalam kotak penalti. Skor 4-0 di papan skor seperti vonis yang membungkam semangat Barcelona. Mereka berjalan menuju ruang ganti dengan kepala tertunduk, langkah gontai, dan sorot mata penuh keputusasaan.

Memasuki babak kedua, situasi tak banyak berubah. Barcelona mencoba bangkit, namun usaha mereka lebih sering berakhir sia-sia. Frustrasi memuncak ketika Eric Garcia diganjar kartu merah pada menit ke-85. Bermain dengan 10 orang, Blaugrana kian tenggelam dalam keterpurukan.

Hingga peluit akhir dibunyikan, tak satu pun gol mampu mereka ciptakan. Di atas lapangan, beberapa pemain tampak terduduk lesu, menatap rumput tanpa ekspresi. Ada yang menutup wajah dengan tangan, ada pula yang berdiri terpaku, seolah masih tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.

Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Barcelona. Rapuhnya pertahanan, minimnya kreativitas, serta runtuhnya mental juara terlihat jelas di laga krusial ini. Tim Catalan seolah kehilangan identitasnya, berubah menjadi skuad yang ragu, takut, dan mudah runtuh saat ditekan.

Hasil buruk ini membuat misi menuju final nyaris mustahil. Pada leg kedua di Camp Nou, 4 Maret mendatang, Barcelona dituntut menang dengan selisih minimal lima gol tanpa balas, sebuah tugas yang nyaris mustahil dalam kondisi mental seperti saat ini.

Sebaliknya, Atletico Madrid berada di atas angin. Mereka hanya membutuhkan hasil imbang, bahkan kekalahan tipis, untuk memastikan tiket ke partai puncak.

Kini, Barcelona berada di persimpangan paling gelap musim ini. Kepercayaan diri runtuh, tekanan publik menggunung, dan mimpi final semakin menjauh. Jalan menuju kejayaan berubah menjadi lorong panjang penuh keraguan tempat di mana harapan mereka perlahan memudar, nyaris tak bersisa.

Share This Article