Stop Membentak Anak, Berikut Dampak Buruknya

4 Min Read
Stop Membentak Anak, Berikut Dampak Buruknya (Ilustrasi)

NOLESKABAR.COM Membesarkan anak bukan perkara mudah. Ada lelah. Ada tekanan. Ada emosi yang kadang sulit dikendalikan. Dalam situasi tertentu, orang tua bisa saja kehilangan kesabaran dan membentak anak. Sekilas terlihat sepele. Hanya suara yang meninggi. Hanya nada yang keras. Namun jika itu menjadi kebiasaan, dampaknya tidak sederhana.

Bentakan bukan sekadar suara keras. Ia membawa pesan. Pesan tentang kemarahan. Tentang penolakan. Tentang ketidaksabaran. Dan bagi anak, pesan itu bisa tertanam jauh lebih dalam dari yang disadari orang tua.

Berikut beberapa risiko jika orang tua terlalu sering membentak anak.

1. Menurunkan Rasa Percaya Diri Anak

Anak belajar tentang dirinya dari cara orang tua berbicara kepadanya. Jika ia sering dibentak, ia bisa merasa dirinya selalu salah. Selalu kurang. Selalu mengecewakan.

Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengikis rasa percaya diri. Anak menjadi ragu pada kemampuannya sendiri. Takut mencoba hal baru karena takut dimarahi lagi.

2. Membentuk Anak yang Penakut atau Tertutup

Bentakan yang berulang membuat anak merasa tidak aman secara emosional. Ia mungkin memilih diam daripada berbicara. Menyimpan cerita daripada berbagi.

Anak menjadi penakut. Takut salah. Takut bertanya. Takut mengungkapkan pendapat. Hubungan yang seharusnya hangat berubah menjadi penuh jarak.

3. Memicu Perilaku Agresif

Anak adalah peniru ulung. Ia belajar dari apa yang ia lihat dan dengar setiap hari. Jika bentakan menjadi bahasa komunikasi di rumah, anak bisa menirunya.

Ia mungkin membentak teman. Berbicara kasar. Mudah marah. Karena baginya, itu cara yang wajar untuk mengekspresikan emosi.

4. Mengganggu Perkembangan Emosional

Anak membutuhkan bimbingan untuk memahami emosinya. Jika setiap kesalahan dibalas dengan bentakan, ia tidak belajar mengelola emosi. Ia hanya belajar takut.

Dalam jangka panjang, anak bisa kesulitan mengendalikan amarah atau justru memendam emosi hingga meledak di kemudian hari.

5. Merusak Kedekatan Orang Tua dan Anak

Hubungan yang sehat dibangun atas dasar rasa aman dan percaya. Terlalu sering membentak bisa menciptakan jarak emosional. Anak mungkin patuh, tetapi bukan karena hormat. Melainkan karena takut.

Kepatuhan yang lahir dari rasa takut tidak sama dengan kedisiplinan yang lahir dari pemahaman.

6. Menyebabkan Stres dan Kecemasan pada Anak

Suara keras dan nada marah dapat memicu respons stres pada anak. Jantung berdebar. Tubuh tegang. Perasaan cemas muncul.

Jika berlangsung terus-menerus, anak bisa tumbuh dengan tingkat kecemasan yang tinggi. Ia selalu waspada. Selalu merasa terancam melakukan kesalahan.

7. Membentuk Pola Asuh yang Turun-Temurun

Cara kita dibesarkan sering memengaruhi cara kita membesarkan anak. Jika bentakan menjadi kebiasaan, ada risiko pola itu terbawa hingga generasi berikutnya.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh bentakan bisa mengulang pola yang sama saat ia menjadi orang tua kelak. Siklus ini terus berputar jika tidak disadari dan dihentikan.

Mengubah Bentakan Menjadi Bimbingan

Marah adalah emosi yang manusiawi. Orang tua bukan robot. Namun yang perlu dijaga adalah bagaimana emosi itu diekspresikan.

Menarik napas sebelum berbicara. Menurunkan nada suara. Memilih kata yang lebih tenang. Hal-hal kecil ini bisa membuat perbedaan besar.

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Ia membutuhkan orang tua yang mau belajar. Mau meminta maaf ketika salah. Mau memperbaiki cara berkomunikasi.

Karena pada akhirnya, yang paling diingat anak bukan seberapa keras suara kita. Tetapi bagaimana perasaan yang kita tinggalkan di hatinya.

Editor: Sukri

Share This Article