Sudah Lari Marathon, Kolesterol Menkes Tetap Tinggi: Budi Gunadi Ungkap Fakta Obat Biologis Mahal tapi Ampuh

2 Min Read
Sudah lari marathon dan hidup sehat, kolesterol jahat Menkes Budi Gunadi Sadikin tetap tinggi. Curhat soal faktor genetik hingga obat biologis mahal tapi ampuh ini jadi sorotan soal masa depan pengobatan di Indonesia.

JAKARTA, NOLESKABAR.COM – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkap sisi lain dari perjuangan hidup sehat yang ia jalani. Meski dikenal rajin olahraga dan sukses menuntaskan Berlin Marathon di usia 60 tahun, kadar kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein (LDL) di tubuhnya justru tak kunjung turun.

Dalam sambutannya di Gedung BPOM RI, Rabu (28/1/2026), pria yang akrab disapa BGS itu mengaku kadar LDL miliknya konsisten berada di atas angka normal. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari menjaga pola makan hingga mengonsumsi obat penurun kolesterol.

Namun hasilnya tak sesuai harapan. “Saya sudah lari maraton, makan sehat, tapi LDL tetap di atas 100,” ujar BGS. Ia juga tak menampik memiliki kegemaran makan yang membuatnya sulit benar-benar menahan diri.

BGS mengaku sudah mengonsumsi statin, obat yang umum diresepkan untuk menurunkan kolesterol. Meski demikian, efeknya belum mampu menekan kadar LDL secara signifikan.

Dokter kemudian menyampaikan kemungkinan adanya faktor genetik yang memengaruhi kondisi tersebut. BGS pun diperkenalkan pada terapi berbasis biologi yang relatif baru, yakni PCSK9 inhibitor.

“Namanya saja sudah aneh, biasanya kalau namanya aneh itu mahal,” kata BGS berseloroh. Meski demikian, ia mengakui efek obat tersebut sangat cepat dan nyata.

“Disuntik sekali, LDL langsung turun,” lanjutnya. Pengalaman pribadi itu membuka pandangannya terhadap potensi besar obat-obatan biologis dalam menangani penyakit metabolik.

Menkes menilai tren penggunaan obat biologis kini terus meningkat secara global. Selain untuk kolesterol, obat sejenis juga banyak digunakan untuk menurunkan berat badan melalui mekanisme GLP-1 seperti Ozempic dan Wegovy.

Menurutnya, meski jumlah pengguna obat biologis masih kalah dibanding obat berbasis kimia, nilai pasarnya justru sudah lebih besar. Hal ini terjadi karena terapi biologis dinilai lebih sesuai dengan sistem biologis tubuh manusia.

Melihat perkembangan tersebut, BGS mendorong agar Indonesia mampu memproduksi obat biologis secara mandiri. Ia menilai akses terhadap obat inovatif harus diperluas agar lebih terjangkau bagi masyarakat.

Untuk itu, Menkes berencana mendorong penyederhanaan regulasi riset dan inovasi obat. Ia berharap langkah tersebut dapat menarik lebih banyak investasi swasta dan membantu menekan beban penyakit di Indonesia.

Share This Article